Sejumlah pengunjung menikmati keindahan Curug Setawing di Dusun Jonggrangan, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo, Minggu (27/12/2015). (Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah pengunjung menikmati keindahan Curug Setawing di Dusun Jonggrangan, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo, Minggu (27/12/2015). (Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 8 April 2016 15:55 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

KESELAMATAN WISATA
Banyak Wisata Air, Masyarakat Jatimulyo Perlu Belajar "Water Rescue"

Keselamatan wisata air di Kulonprogo perlu diperhatikan oleh warga

Solopos.com, KULONPROGO-Sebanyak 120 orang dari berbagai lapisan masyarakat mengikuti kemah pelatihan dan simulasi sistem penanggulangan bencana di Dusun Sokomoyo, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo, Kamis (7/4/2016). Kegiatan tersebut diselenggarakan selama tiga hari hingga Sabtu (9/4/2016).

Ketua tim pelatih, Iptu Yuda Bramastra mengatakan, peserta diberikan pemahaman mengenai manajemen penanggulangan bencana, baik sebelum dan sesudah maupun saat terjadi bencana.

“Masyarakat setempat menjadi orang yang bisa memberikan pertolongan pertama karena SAR maupun personel lain datangnya butuh waktu,” kata dia.

Yuda mengatakan, materi utama yang diangkat adalah penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Selain prosedur penanggulangan bencana, peserta juga akan diajarkan cara menggunakan berbagai peralatan evakuasi.

Masyarakat perlu dilatih untuk menjalankan kerja organisasi yang telah dibentuk secara mandiri. Yuda berpendapat, harus jelas siapa saya berperan mengevakuasi dan mendata korban, mengarahkan masyarakat ke titik kumpul, hingga berkoordinasi dengan pemerintah serta instansi terkait.

Hal itu nantinya bisa terlihat pada simulasi yang digelar pada hari ketiga, Sabtu besok. “Intinya yang diutamakan adalah bagaimana peran masyarakat,” ucap Yuda.

Yuda lalu mengatakan, wilayah Jatimulyo memiliki banyak potensi obyek wisata alam yang menawarkan kesejukan air pegunungan, seperti taman sungai mudal dan kedung pedut. Kondisi itu membuat masyarakat setempat juga perlu dibekali dengan pengetahuan seputar water rescue.

“Hari kedua ada materi khusus water rescue karena di daerah Jatimulyo banyak tempat wisata air,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jatimulyo, Anom Sucondro mengatakan wilayahnya termasuk kawasan rawan bencana. Upaya mitigasi bencana mutlak dibutuhkan karena masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan pertolongan dari tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun relawan.

“Di sini rawan tanah longsor tapi kita juga butuh tahu tentang water rescue karena banyak wisata terkait air di sekitar Jatimulyo,” ujar Anom.

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…