Jesika Kanaya membawa piala kemenangan dalam Lomba Cerita Bahasa Mandarin dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), Rabu (6/4/2016). ( Bernadheta Dian Saraswati /JIBI/Harian Jogja) Jesika Kanaya membawa piala kemenangan dalam Lomba Cerita Bahasa Mandarin dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), Rabu (6/4/2016). ( Bernadheta Dian Saraswati /JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 7 April 2016 03:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

TIONGHOA JOGJA
Percaya Diri Berbahasa Mandarin Meski Logat Medok

Tionghoa Jogja, semakin banyak generasi muda yang berbahasa mandarin.

Solopos.com, JOGJA-Dia bukan gadis Tionghoa. Dia adalah gadis cilik keturunan Jawa. Ia lahir dan  tinggal di Jawa dan saat ini menempati rumah di Jetis, Jogja. Namun, latar belakang budaya sebagai orang Jawa tidak membatasi dirinya untuk belajar bahasa dan budaya negara lain.

Jesika Kanaya, gadis cilik kelas IV SD Mutiara Persada Sleman ini, piawai dalam berbahasa Mandarin. Bahkan kepiawaiannya itu mengantarkannya menjadi pemenang juara III dalam Lomba Cerita Bahasa Mandarin dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) beberapa waktu lalu.

Saat itu, ia membawakan sebuah cerita berjudul Gajah dan Semut. Dalam penampilannya, ia tetap percaya diri meski lomba tersebut diikuti banyak peserta dari keturunan Tionghoa. “Aku juga percaya diri meski agak medok. Logat Jawanya kelihatan,” kata Jesika saat ditemui di Lembaga Bahasa Mandarin Xinlong, Jl. Pakuningratan Jogja, Rabu (6/4/2016).

Lomba Bahasa Mandarin tersebut merupakan lomba pertama yang ia ikuti. Selain untuk menguji ketrampilan berbahasa, lomba yang diselenggarakan di komplek Kampung Ketandan Jogja tersebut bisa untuk melatih ekspresi dan kelantangan suara. Ia menyadari bahwa ia memiliki suara yang lirih sehingga saat tampil di panggung, ia dituntut mengeluarkan suaranya yang lebih keras.

Tak dipungkirinya bahwa logat Jawa tulen yang melekat dalam ucapannya sulit untuk dihilangkan. Tetapi anak berusia 10 tahun ini tidak pernah pantang menyerah. Ia terus belajar, tidak hanya di sekolah tetapi juga di lembaga bahasa Mandarin yang diikutinya.

Ia mengaku sudah belajar di Xinlong sejak 1,5 tahun. Ia mengenyam pendidikan di situ karena inisiatifnya sendiri. “Orang tua kebetulan memang nggak bisa Bahasa Mandarin. Karena aku seneng bicara pakai Mandarin, aku ingin masuk les di situ,” kata anak pertama dari dua bersaudara ini.

Jesika mulai mengenal Bahasa Mandarin sejak TK. TK Mutiara Persada, tempat sekolahnya dulu, juga mengajarkan Mandarin pada murid-muridnya. Di SD pun pelajaran bahasa itu masih disampaikan. Karena semakin tertarik, Jesika ingin memperdalam bahasanya dengan mengikuti kursus.

Jesika tidak mengalami kesulitan dalam pengucapan, begitu juga dengan penulisan huruf kanji. Ia mengungkapkan bahwa juara III yang ia raih merupakan awal dalam berprestasi di dunia Mandarin. “Inginnya besok jadi guru bahasa Mandarin,” tutupnya.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…