Ilustrasi penertiban PKL (Dok/Solopos)
Kamis, 7 April 2016 16:40 WIB Indah Septiyaning W/JIBI/Solopos Solo Share :

PENATAAN PKL SOLO
Giliran PKL Di Setabelan Akan Ditata

Penataan PKL Solo akan  menyasar PKL yang berada di sekitar TPS Setabelan.

Solopos.com, SOLO–Setelah pedagang kaki lima (PKL) city walk Jl. Slamet Riyadi, Pemkot akan menyasar penataan PKL di tiga ruas jalan, meliputi Jl. D.I Panjaitan, Jl. Abdul Muis dan Jl. M. Saleh Werdisastro. Puluhan pedagang menggelar dagangan di sekitar bekas tempat pembuangan sampah (TPS) Setabelan, Banjarsari bakal ditertibkan pada tahun ini.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan penataan PKL di kawasan bekas TPS Setabelan merupakan lanjutan pengembangan penataan kawasan Monumen ’45 Banjarsari. “Di bekas TPS sudah kami buatkan taman kota. Sementara kawasan sekitarnya belum kami tata, sehingga perlu penataan lingkungan,” kata Rudy sapaan akrabnya ketika berbincang dengan wartawan di Balai Kota, Kamis (7/4/2016).

Rudy menjelaskan selama ini penataan PKL yang dijalankan Pemkot, tidak asal gusur. Pemkot memberikan solusi penataan berupa pemberian tenda, gerobak, maupun relokasi.   Program penataan dan penertiban PKL sudah diberlakukan sejak 10 tahun lalu. Begitu pula dengan rencana penataan PKL di bekas TPS Setabelan. Namun, Rudy masih memikirkan lokasi untuk menampung para PKL tersebut.

Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) mengatakan berdasarkan inventarisasi, ada 45 PKL yang menggelar dagangan di kawasan bekas TPS Setabelan. Jenis dagangan para PKL tersebut di antaranya buah-buahan, kelontong, tambal ban dan warung makan. Subagiyo mengatakan penertiban PKL biasanya diikuti relokasi ke lokasi representatif, salah satunya di pasar tradisional atau di selter yang sudah disiapkan Pemkot. “Sekarang kami masih mencari lokasi yang pas. Pasar tradisional bisa menjadi alternatif untuk tempat relokasi pedagang,” katanya.

Dari keseluruhan jumlah PKL di Kota Solo sebanyak 5.817 pedagang, Subagiyo mencatat masih ada 300-an PKL yang belum ditata. Para PKL tersebut tersebar di Kota Bengawan, di antaranya di sekitar Jl. Ir. Juanda, Jl. Ir. Sutarmi, Mojosongo dan sejumlah ruas jalan lainnya. Subagiyo mengklaim  zero pertumbuhan PKL baru di lokasi yang telah dilakukan penataan PKL.  “Penataan PKL ini memang tidak bisa langsung ditata begitu saja. Kami juga mempertimbangkan sisi kemanusian para PKL. Jadi penataannya bertahap,” kata dia.

Subagiyo mengakui daerah perkotaan tidak bisa bersih dari keberadaan PKL. PKL menjadi salah satu tempat wisata kuliner yang ada di setiap daerah. Namun keberadaan PKL harus ditertibkan dan ditata agar tidak berjualan di sembarang tempat.

LOWONGAN PEKERJAAN
Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…