Gapur pintu masuk Kampung Batik Laweyan (Rini Y/JIBI/Solopos/com) Gapur pintu masuk Kampung Batik Laweyan (Rini Y/JIBI/Solopos.com)
Kamis, 7 April 2016 09:30 WIB Indah Septiyaning W/JIBI/Solopos Solo Share :

PENATAAN KOTA SOLO
Begini Desain Perkampungan Kota Bengawan

Perkampungan Solo, Dinas Tata Ruang Kota Solo akan membuat buku perkembangan sejarah dan kebudayaan kampung di Solo.

Solopos.com, SOLO–Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo menggangas membuat toponimi atau asal usul nama perkampungan di Kota Bengawan. Toponimi akan disusun dalam sebuah karya buku sebagai pedoman perkembangan sejarah dan kebudayaan setempat.

Kepala DTRK Agus Djoko Witiarso mengatakan keberadaan Toponimi diharapkan mampu menguraikan secara detail terkait nama asal usul suatu tempat di Kota Solo. Rencananya, Agus menggandeng tim ahli cagar budaya (TACB), sejarawan, komunitas pemerhati sejarah dalam menyusun toponimi tersebut.

“Toponimi sangat penting untuk memberikan pengetahuan asal muasal adanya suatu tempat,” kata Agus ketika dijumpai wartawan di ruang kerjanya, Rabu (6/4/2016).

Agus mengatakan pembuatan toponimi sejalan dengan program wisata Solo berbasis budaya. Menurut Agus, hampir di seluruh lokasi di Kota Solo memiliki nilai sejarah masing-masing. Sejarah asal usul tempat inilah yang ingin diangkatnya dalam sebuah karya buku.  Sehingga sangat disayangkan bila potensi sejarah yang ada dibiarkan begitu saja. “Kalau bisa Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) dimasukkan asal usul tempat di Solo dalam pelajaran muatan lokal,” kata Agus.

Agus mengakui penyusunan toponimi tidak mudah. Dibutuhkan waktu lama untuk membuat toponimi tersebut. Apalagi mencari sumber-sumber sejarah yang mampu menceritakan asal muasal setiap lokasi. Ditanya mengenai anggaran dan kapan penyusunan toponimi dilaksanakan, Agus belum bisa memastikannya. Agus berencana mengajukan anggaran di APBD Perubahan (APBD-P) untuk menyusun toponimi tersebut. “Mudah-mudahan saja disetujui, jadi bisa dikerjakan tahun ini,” katanya.

Saat ini, Agus mengatakan telah merampungkan Rencana Aksi Kota Pusaka (RAKP) 2015-2035. RAKP dinilai penting sebagai arah kebijakan dalam penataan kawasan cagar budaya di Kota Solo. Pemkot berupaya untuk terus melestarikan kawasan cagar budaya. Agus menyebutkan ada beberapa langkah strategis yang dilakukan Pemkot dalam mendukung pelestarian cagar budaya.

Langkah itu di antaranya kawasan cagar budaya sebagai kawasan strategis sosial budaya dalam rencana tata ruang, mengembangkan bentuk insentif dan disentif, menyusun peta pusaka, mendorong penguatan kelembagaan, mendorong aktivitas budaya, meningkatkan sarana dan prasarana lingkungan di kawasan pusaka, mengembangkan informasi dan edukasi tentang kota pusaka, serta melakukan revitalisasi dan adaptasi.

“Kami ingin menjadikan kawasan dan bangunan cagar budaya tidak hanya menjadi estetika dan romantisme saja. Namun sustainable dengan memiliki nilai ekonomi dan budaya. Nah toponimi daerah bisa masuk ke sini,” katanya.

KSP.Pratama Surya Makmur, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



Kolom

GAGASAN
Kemanusiaan Keluarga Polk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/9/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, seorang novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Persekusi terhadap warga Rakhine etnis Rohingya di Myanmar…