Shuttle bus gratis untuk karyawan di Jalan Malioboro mulai dioperasikan, Senin (4/4/2016). Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja) Shuttle bus gratis untuk karyawan di Jalan Malioboro mulai dioperasikan, Senin (4/4/2016). Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 7 April 2016 19:55 WIB Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PARKIR MALIOBORO
Shuttle Bus Bisa Dikelola Mantan Juru Parkir Malioboro, Mungkinkah?

Parkir Malioboro memunculkan shuttle bus untuk mengangkut karyawan dari tempat parkir menuju Jalan Malioboro
 
Solopos.com, JOGJA –– Pemkot Jogja berencana menawarkan pengelolaan shuttle Malioboro kepada para juru parkir (jukir) ABA. Namun mereka harus membentuk koperasi untuk bisa mengelola kegiatan usaha terlebih dahulu.

Walikota Jogja Haryadi Suyuti Selasa (5/4/2016) mempertimbangkan untuk menyerahkan pengelolaan shuttle Malioboro kepada para jukir yang sekarang ada di ABA.

Menurutnya ada peluang bagi para jukir yang sekarang ada di ABA untuk mengelola angkutan umum yang akan membawa warga yang parkir di ABA menelusuri jalanan Malioboro.

Konsep itu mirip dengan konsep shuttle wisata Si Thole yang berpusat di parkir Ngabean. Si Thole selama ini dikelola mantan jukir yang dulu mengelola parkir di Alun-Alun Utara.

Bedanya, shuttle Malioboro akan beroperasi seperti shuttle sementara yang saat ini disediakan oleh Pemerintah Kota Jogja untuk mengangkut para karyawan Malioboro.

“Itu salah satu yang sedang kami jajaki, yang jelas dengan adanya koperasi mereka bisa berkegiatan usaha sebagai bagian dari koperasi,” kata Haryadi.

Dia pun meminta jukir Malioboro yang sekarang menempati ABA untuk segera berembug dan menata untuk bisa mempertimbangkan penawaran bentuk koperasi ini.

Ketua Forum Komunikasi Pekerja Parkir Kota Yogyakarta (FKPPY) Hanarto Selasa (5/4/2016) mengatakan pihaknya sudah mendapatkan tawaran untuk membentuk koperasi dan sedang melakukan diskusi di kalangan para jukir. Dia mengakui dalam bentuk koperasi banyak keuntungan yang bisa diterima para jukir.

“Tapi kami rembugan dulu baiknya seperti apa karena ini kan rumah bareng-bareng para jukir yang dulu di Malioboro,” kata dia.

Terkait rencana para jukir ke depan, Hanarto mengatakan dirinya belum bisa berkomentar lebih lanjut. Sejauh ini para jukir sedang melakukan adaptasi sehingga mereka tak mau terburu-buru dalam menentukan langkah. Yang jelas menurutnya mereka sudah memiliki beberapa rencana yang akan sekaligus dibahas bersama dengan jukir lainnya.

“Yang jelas bersyukur pindah kemari tidak ada gejolak dan sejauh ini lancar,” imbuh dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…