Warga melintasi jalan berlubang yang tergenang air hujan di Jl. Bhayangkara, Solo, Kamis (7/4/2016). Coretan cat semprot pada tepi jalan berlubang tersebut menjadi tanda dan peringatan bagi pengendara agar tidak nekat melintasi karena rawan mengakibatkan kecelakaan. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Kamis, 7 April 2016 21:41 WIB Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos Solo Share :

JALAN RUSAK SOLO
Semprotan White Pylox untuk Kewaspadaan Pengguna Jalan

jalan rusak Solo, grup Facebook ICS mengadakan gerakan semprot jalan berlubang di Solo.

Solopos.com, SOLO–Ratusan lubang yang menganga di sejumlah jalan Soloraya ditandai dengan cat semprot berwarna putih. Gerakan masif yang telah berjalan selama setahun terakhir ini diinisiasi komunitas berbasis grup Facebook Info Cegatan Solo dan Sekitarnya (ICS).

Ditemui Solopos.com di markas ICS yang berada di Wedangan Ahas Taruna Motor Jl. Bhayangkara Tipes, Rabu (6/4/2016) malam, beberapa anggota dan pengurus ICS dari divisi Team White Pylox yang bertugas mengawal gerakan menandai lubang jalan dengan cat semprot berwarna putih, membeberkan aksinya yang sudah merambah Kota Solo, Sukoharjo, Karanganyar, serta daerah lain.

Koordinator Lapangan Team White Pylox ICS, Chapzha, 38, mengatakan gerakan sosial ini mulanya bermula dari obrolan anggota aktif ICS. Mereka merasa prihatin dengan banyaknya lubang di jalanan Soloraya yang tak jarang menimbulkan jatuhnya korban jiwa.

“Awalnya kita ngobrolin postingan jalan berlubang. Setelah itu banyak komentar ada yang laporan jatuh sampai meninggal dunia dan segala macam. Sampai ada anggota kami [ICS] yang keguguran gara-gara jalan berlubang. Akhirnya sejak 23 Maret 2015, atas persetujuan Presiden ICS  kami bikin aksi sosial TWP,” terangnya.

Warga yang tinggal di Kampung Sewu, Jebres, Solo ini menjelaskan tujuan utama aksi kelompoknya yang minimal sepekan sekali menandai jalanan berlubang dengan cat semprot berwarna putih secara kolektif tersebut untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan. Hal itu selaras dengan visi grup untuk menjadi wadah saling berbagi seputar informasi berlalulintas bagi anggotanya.

“Kami enggak punya maksud menyindir pemerintah. Maksud kami hanya ingin menolong pengguna jalan, terutama para sedulur [julukan bagi anggota grup ICS yang terakhir diakses telah diikuti 69.203 orang],” bebernya.

Chapzha menjelaskan kelompoknya sengaja memilih cat semprot berwarna putih lantaran dipandang efektif meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan, terutama pada malam hari di beberapa ruas jalan dengan penerangan minim.
“Tanda putih lebih kelihatan dibandingkan menanam pohon atau menaruh meja di jalan. Pohon atau meja di tengah jalan justru membahayakan pengguna jalan,” paparnya.

Untuk melancarkan aksinya menandai jalanan yang berlubang, warga yang sehari-hari bekerja di salah satu perusahaan farmasi di Palur, Karanganyar ini membeberkan kelompoknya mengumpulkan amunisi berupa cat semprot dari patungan kolektif anggota ICS yang terdiri atas berbagai kalangan. ICS menolak bantuan yang diberikan partai politik atau kelompok tertentu yang dianggap memiliki tendensi khusus.

Anggota TWP ICS, Gus Phar, 44, mengatakan dalam menjalankan aksinya kelompok tersebut memiliki cara khusus. Kelompok ini biasanya memilih waktu menandai jalan berlubang mulai pukul 22.00 WIB ke atas saat aktivitas kendaraan dirasa telah lengang. Selain itu, mereka juga memilih menandai jalanan saat cuaca cerah atau jalanan tidak basah.

“Kami sampaikan kepada anggota kalau mau menandai jalanan, diusahakan menggunakan rompi [rompi reflektor] dan stick light untuk keamanan. Anggota juga ada yang bertugas menjaga personel yang sedang mengecat,” katanya.

Sementara itu, salah satu Koordinator Solo Pusat ICS, Om Emon, 34, menjelaskan aksi menandai lubang jalanan merupakan salah satu kegiatan kopi darat komunitas yang telah aktif di dunia maya dua tahun terakhir. Mulanya aksi tersebut dilakukan tujuh orang. Namun kini sekali aksi kolektif bisa melibatkan sampai 23 anggota.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…