Ilustrasi diabetes (Iran-daily.com) Ilustrasi diabetes (Iran-daily.com)
Kamis, 7 April 2016 11:55 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

DIEBETES MELITUS
Penderita Diabetes Melitus di Indonesia Diperkirakan Terus Meningkat

Diabetes Melitus menjadi salah satu penyakit dengan jumlah penderita yang diperkirakan terus meningkat

Solopos.com, JOGJA-Data World Health Organization (WHO) mengungkapkan, jumlah penderita Diabetes Melitus (DM) di Indonesia akan meningkat hingga 21,3 juta jiwa pada 2030 mendatang. Saat ini Indonesia merupakan negara yang berada di urutan keempat dengan prevalensi tertinggi di dunia setelah India, Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat.

Ahli Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Bowo Pramono pada Rabu (6/4/2016) dalam rilis kepada wartawan mengatakan, jumlah pengidap diabetes terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, terutama DM tipe 2.

“Lebih dari 60 persen pengidap diabetes tidak sadar kalau terkena diabetes. Kebanyakan datang ke dokter dalam kondisi sudah komplikasi,” ungkap Kepala SMF/KSM Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito ini.

Bowo selanjutnya menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat untuk lebih mengenali gejala diabetes sedini mungkin. Ia menyebutkan ada tiga gejala klasik diabetes yang dikenal dengan istilah 3P yaitu poliuri atau sering buang air kecil, polifagi atau sering merasa lapar, dan polidpsi atau sering merasa haus.

Ditambah lagi, mengalami penurunan berat badan tanpa disertai dengan sebab yang jelas. Gejala-gejala ini memang kerap tidak diperhatikan sebagai keadaan yang harus dikhawatirkan sehingga tidak ada langkah untuk melakukan pemeriksaan ke dokter.

Diabetes, imbuh dia, bukanlah suatu penyakit yang mematikan. Meski demikian, penyakit yang timbul akibat peningkatan kadar gula dalam darah ini bisa mematikan apabila terjadi komplikasi. Sehingga ia mengimbau perlunya screening, dengan rajin memeriksakan kondisi kesehatan satu kali dalam setahun.

Untuk menekan risiko terkena diabetes, masyarakat diharapkan lebih memperhatikan kesehatan dengan menjalani pola hidup sehat. Antara lain dengan makan sesuai dengan kebutuhan dengan komposisi nutrisi seimbang dan melakukan olahraga secara rutin.

“Pencegahan primer dilakukan dengan menjaga agar orang yang berisiko diabetes tidak sampai terkena diabetes karenanya perlu dilakukan skrining,” ujarnya.

Sementara itu, pencegahan sekunder dilakukan agar penderita diabetes tidak mengalami komplikasi akut. Karena apabila tidak dikelola dengan baik, DM akan menyebabkan komplikasi kronis seperti stroke, serangan jantung, gangguan syaraf tepi, dan amputasi. Begitu pula dengan pencegahan tersier perlu dilakukan agar penderita diabetes yang terkena komplikasi tidak mengalami cacat, amputasi, bahkan kematian.

“Karenanya program edukasi dan sosialisasi akan gejala, upaya pencegahan, dan pengelolaan diabetes ini sangat dibutuhkan untuk menekan prevalensi diabetes secara nasional,” tuturnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…