Whatsapp (Forbes) Whatsapp (Forbes)
Kamis, 7 April 2016 22:00 WIB Sholahuddin Al Ayyubi/JIBI/Bisnis Internet Share :

APLIKASI SMARTPHONE
Pakar: Jangan Pakai Whatsapp untuk Pembicaraan Penting!

Aplikasi smartphone tak lepas dari ancaman. Whatsapp diyakini masih bisa dibobol sehingga pengguna disarankan tidak memakainya untuk komunikasi penting.

Solopos.com, JAKARTA — Pemerintah diminta untuk mewaspadai layanan Whatsapp yang diyakini masih dapat dibobol oleh pihak ketiga. Meskipun saat ini salah satu aplikasi chatting terpopuler itu sudah menerapkan fitur enkripsi pada sistem keamanannya.

Chairman lembaga riset keamanan cyber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, menjelaskan sampai saat ini tidak ada sistem keamanan yang tidak bisa diretas oleh pihak ketiga, meskipun sistem keamanan tersebut sudah dienkripsi sedemikian rupa oleh Whatsapp.

Menurutnya, enkripsi yang aman dari tangan orang ketiga terletak pada kekuatan alogaritma yang dibuat Whatsapp. Semakin kuat alogaritma yang dibuat, maka akan semakin sulit ditembus keamanannya.

“Tidak ada sistem pengamanan yang 100% aman dan tidak bisa diretas, ini semua tergantung dari kekuatan alogaritma enkripsinya saja,” tuturnya kepada Bisnis/JIBI melalui pesan singkat di Jakarta, Kamis (7/4/2016).

Menurut Pratama, fitur enkripsi yang baru saja diterapkan Whatsapp beberapa hari terakhir ternyata masih belum cukup aman dari pihak ketiga. Karena itu, Pratama mengimbau institusi pemerintah agar tidak lagi menggunakan Whatsapp untuk melakukan komunikasi yang sangat penting. Pasalnya, seluruh riwayat chat di Whatsapp tersimpan di Google Drive yang masih dapat dibobol.

“Jadi, kalau penggunanya adalah masyarakat biasa, Whatsapp ini bisa digunakan untuk menambah pengamanan privasi kita. Tapi untuk government dan military sector, wajib menggunakan sistem pengamanan yang sudah terpercaya kekuatannya,” katanya.

Mantan Ketua Tim IT kepresidenan itu juga menambahkan server WhatsApp yang berada di Amerika Serikat patut menjadi pertimbangan seluruh institusi pemerintah untuk menggunakan Whatsapp saat ini. Pasalnya, lembaga intelijen Amerika Serikat seperti National Security Agency (NSA) diyakini memiliki kemampuan untuk membuka semua “kunci” enkripsi, termasuk enkripsi yang baru saja dibuat oleh Whatsapp.

“Karena secara default layanan backup yang digunakan oleh WhatsApp adalah Google Drive yang masih bisa diakses pemerintah manapun dengan permintaan khusus. Berbeda dengan aplikasi serupa yang punya standar keamanan dan militer tingkat tinggi,” ujarnya.

Menurut Pratama, tren penggunaan enkripsi kini sudah mulai banyak digunakan di seluruh model teknologi sejalan dengan semakin tingginya ketergantungan manusia terhadap Internet. Praatama menjelaskan enkripsi saat ini banyak digunakan untuk mengamankan data, jaringan dan komunikasi.

“Di Tanah Air sendiri enkripsi sudah dikembangkan oleh Lembaga Sandi Negara dan beberapa perusahaan security anak bangsa,” tukasnya.

WhatsApp baru saja mengeluarkan fitur terbarunya yaitu layanan instant messaging yang menerapkan sistem enkripsi untuk melindungi percakapan antarpengguna. Dari penjelasan resmi Whatsapp, pesan antar pengguna terlindungi protokol enkripsi end-to-end. Fitur ini diyakini berfungsi agar pesan tidak bisa dibaca maupun disadap dan bahkan tidak bisa dibaca oleh WhatsApp sendiri. Pesan tersebut hanya bisa dibaca oleh penerima yang dituju, termasuk layanan telepon, gambar, video, pesan suara.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…