Sugiono, 37, warga Sambirejo, Sragen, duduk di atas balok beton yang menjadi penanda batas wilayah Kabupaten Sragen dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Ngawi. Foto diambil belum lama ini. (Moh.Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)
Rabu, 6 April 2016 12:00 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Sragen Share :

WISATA SRAGEN
Hebat, Tiga Kabupaten dan Dua Provinsi Terlewati dalam Sedetik

Wisata Sragen kini dilengkapi dengan adanya titik koordinat pemisah tiga kabupaten di Desa Sukorejo.

Solopos.com, SRAGEN – Selain menjadi rujukan objek wisata arung jeram mini alias tubing, ada alasan lain mengapa Anda perlu mengunjungi Desa Sukorejo, Kecamatan Sambirejo, Sragen. Siapa sangka, satu detik di lokasi ini, Anda bisa berada di tiga kabupaten dan dua provinsi sekaligus.

Di desa ini terdapat sebuah lokasi yang menjadi titik koordinat pemisah Kabupaten Sragen dengan Kabupaten Karanganyar di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Ngawi di Provinsi Jawa Timur. Titik koordinat yang terpantau melalui GPS dengan nomor 07o31’ 27,5” LS 111o08’ 49,4’’ BT itu ditandai dalam bentuk tiga buah balok beton. Lokasi titik koordinat itu berlokasi tak jauh dari Telaga Bandut. Di dekat tiga balok beton itu terdapat batu berukuran cukup besar yang oleh warga sekitar dinamai watu bandut.

Titik koordinat itu menjadi batas wilayah tiga kabupetan di dua provinsi berbeda. Di bagian selatan merupakan Desa Lempong, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Di sebelah barat dan utara merupakan Desa Sukorejo, Kecamatan Sambirejo, Sragen. Sementara di sebelah timur merupakan Desa Pocol, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. ”Jadi saat seseorang duduk di atas balok beton itu, dia sudah berada di tiga kabupaten dan dua provinsi sekaligus dalam waktu tercepat yakni satu detik,” jelas tokoh masyarakat Dusun Jetis, Desa Sukorejo, Sukamto, kepada solopos.com, Selasa (5/4/2016).

Keberadaan balok beton penanda titik koordinat batas wilayah itu menjadi daya tarik tersendiri bagi warga di luar Sukorejo. Mereka sengaja datang hanya untuk melihat langsung tiga balok beton itu. Mereka biasa berfoto selfie sambil duduk di atas balok beton itu.

Sugiono, 37, merupakan salah satu warga Sambirejo yang berkunjung ke lokasi titik koordinat batas wilayah itu. Dia mengaku sudah beberapa kali mengunjungi titik koordinat itu untuk sekadar berfoto selfie.

”Ini adalah tempat yang unik. Memang terkesan mustahil dalam satu detik bisa berada di tiga kabupaten dan dua provinsi sekaligus. Namun, ini benar-benar terjadi. Di saat bersamaan, tangan kiri saya berada di wilayah Sragen, namun tangan kanan berada di wilayah Karanganyar. Kaki kiri saya berada di Sragen, tapi kaki kanan saya sudah berada di Ngawi,” selorohnya.

Di kalangan warga sudah beredar cerita rakyat seputar Telaga Bandut yang berada tak jauh dari titik koordinat itu. Telaga Bandut yang tak pernah surut airnya itu dipercaya sebagai peninggalan Ki Ageng Sentono yang tak lain murid dari Sunan Kalijaga, tokoh penyebar agama Islam di jagad Jawa.

”Menurut cerita dari para leluhur kami, sumber air di Telaga Bandut itu keluar setelah Ki Ageng Sentono mencabut tongkatnya dari tanah. Konon, sekarang tongkat ki Ageng Sentono itu dikuburkan tak jauh dari lokasi. Di sana ada gundukan tanah yang dikeramatkan karena dipercaya menjadi kuburan tongkat Ki Ageng Sentono,” jelas Sukamto.

 

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…