Peserta Ujian Nasional (UN) di SLB Negeri Wonogiri mengerjakan soal ujian, Selasa (5/4/2016). (Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos)
Rabu, 6 April 2016 14:00 WIB Bayu Jatmiko Adi/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

UJIAN NASIONAL 2016
Fokus UN, Pelajar Ini Libur Ngamen

Ujian nasional 2016 di Wonogiri juga diikuti dua pelajar dari SLB Negeri.

Solopos.com, WONOGIRI – Dua siswa berseragam putih dan abu-abu dudu berjajar di salah satu ruang di SLB Negeri Wonogiri, Selasa (5/4/2016). Keduanya sibuk mengerjakan soal ujian nasional (UN) mata pelajaran matematika. Mereka duduk saling berhadapan dengan dua guru pengawas ruang. Di SLB Negeri Wonogiri hanya ada dua peserta UN untuk tahun ini.

Satu dari dua peserta UN tersebut adalah Guntur Gumilang, penyandang tuna daksa. Dia duduk di kursi kayu, dengan kaki tertumpang di meja yang tingginya sejajar dengan alas kursi. Sepatunya di lepas dan diletakkan di bawah meja. Kaki kirinya digunakan untuk menekan lembar jawab UN. Sedangkan kaki kanannya digunakan untuk mengisi lembar jawab UN dengan pensil berwarna biru yang diselipkan di sela-sela jari kaki dan ibu jari kakinya.

Dia tampak serius mengerjakan soal ujian. Begitu juga dengan Ari Setyawan, peserta UN penyandang tuna rungu wicara yang duduk di sebelah kiri Guntur. “Tadi ujian matematika. Cukup sulit karena harus berhitung. Tapi saya kerjakan semua,” kata Guntur saat ditemui solopos.com seusai mengikuti UN hari kedua, Selasa.

Selesai ujian, sekitar pukul 09.45 WIB Guntur lalu menemui Joko, staf SLB Negeri Wonogiri yang bertugas menjemput dan mengantar Guntur. Selama masa UN, Guntur mendapat fasilitas antar jemput dari pihak sekolah. Pukul 10.25 WIB dia sampai di rumahnya, di Tungkluk, RT 001/RW 001, Ngadirojo. Rumahnya cukup sederhana, dengan dinding dari papan dan berlantai tanah.

Dia tinggal bersama orang tua, nenek dan kedua adiknya. Desakan kebutuhan ekonomi membuat Guntur tak kuasa untuk berpangku tangan. Sepulang sekolah, Guntur biasa mengamen untuk menambah penghasilan keluarga.

“Lokasi mengamen di depan rumah sakit [Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soediran Mangoen Soemarso, Wonogiri]. Tapi selama ujian libur dulu,” kata dia.

Meski begitu Guntur sangat ingin dapat bersekolah. “Saya ingin seperti yang lain, bisa sekolah,” kata dia. Guntur merupakan lulusan SMP Negeri 6 Wonogiri, sebelum masuk di SLB Negeri Wonogiri. Dia berharap pada ujian kali ini bisa lulus dengan nilai memuaskan. Setelah lulus sekolah, pelajar kelahiran Mei 1994 itu berencana untuk fokus mengamen guna membantu perekonomian keluarganya.

Kepala SLB Negeri Wonogiri, Eko Wahyudi, berharap semua siswa di SLB dapat mengikuti ujian dengan baik. “Untuk Guntur, memang beberapa kali tidak masuk sekolah, mungkin karena kondisinya. Tapi tetap kami dorong. Semua kami upayakan untuk bisa mengikuti ujian. Kami siapkan kendaraan untuk mengantar dan menjemput siswa,” kata dia.

 

lowongan pekerjaan
PT.ARUTAMA BUMI STILINDO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…