Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi berjalan seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Sabtu (2/4/2016). KPK menetapkan Mohamad Sanusi sebagai tersangka penerima suap dari PT Agung Podomoro Land dimana suap itu untuk perizinan proyek reklamasi di Pantai Utara dengan barang bukti hasil operasi tangkap tangan uang sebesar Rp 1,14 miliar. (JIBI/Antara Foto/Muhammad Adimaja)
Rabu, 6 April 2016 16:00 WIB Feni Freycinetia Fitriani/Detik/JIBI Hukum Share :

SUAP REKLAMASI JAKARTA
Sunny Tanuwidjaya Atur Pertemuan Sanusi-Agung Podomoro? Ahok: Ngaco Itu!

Suap reklamasi Jakarta diwarnai tudingan liar. Muncul nama Sunny Widjaya yang dituding mengatur pertemuan Sanusi dengan Agung Podomoro Land.

Solopos.com, JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menangkis tuduhan kuasa hukum Mochammad Sanusi terkait keterlibatan salah satu staf Ahok bernama Sunny Tanuwidjaja dalam kasus dugaan suap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) zonasi dan reklamasi.

Menurut Ahok, alasan Sunny bergabung dengan tim karena tengah menyelesaikan desertasi doktor. “Saya enggak ada hubungan khusus. Sunny itu kaya anak magang yang lain saja. Dia ikut saya karena sedang penelitian untuk desertasi,” ujarnya di Balai Kota DKI, Rabu (6/4/2016).

Selain itu, mantan Bupati Belitung Timur tersebut menuturkan tidak ada hubungan khusus antara Sunny dan keluarganya. “Mana pernah saya pakai nama Tanuwidjaja? Istri saya orang Medan, Sunny dari Jakarta. Ngaco itu,” imbuhnya.

Sebelumnya, kuasa hukum tersangka Mochammad Sanusi, Krisna Murthi, mengatakan adanya campur tangan salah satu staf Ahok dalam kasus ini. “Bang Uci bilang ada kerabat dekat DKI 1 yang sering bertanya kenapa Raperda enggak beres. Orang ini akhirnya mengatur pertemuan antara klien kami dan PT Agung Podomoro Land,” katanya.

Ahok melanjutkan, Sunny juga tak pernah mengatur pertemuan Agung Podomoro Land (APL) dengan DPRD DKI termasuk M Sanusi yang sudah ditahan KPK.

“Itu bisa dibuktikan. Kamu kira Sanusi bukan orang hebat? Sanusi kerja sama APL, kongsi, sudah lama. Sebelum gua kenal APL, saya kenal Sanusi duluan. Saya enggak tahu, Thamrin City sudah kongsi ambil tempat, Sanusi kerja sama mereka dulu,” tutur Ahok.

Ahok menilai Sunny anak yang baik selama magang. Dia juga tak yakin Sunny mengatur proyek. “Kalau dilihat dari anaknya sih, anaknya baik, enggak macam-macam. Masa dia jual nama saya? Toh kalau jual, saya enggak bisa mengubah kebijakan saya. Buat apa? Makanya saya bilang, serahkan ke KPK saja, kalau memang dia ‘jual’ saya, biar KPK yang ngurus. Kita enggak bisa duga-duga,” kata Ahok.

“Enggak ada desk job, dia sama saja seperti anak magang. Semua orang bebas di rumah saya. Dia kerja dengan orang, sambil mengerjakan skripsi dia juga ikut saya, [guna mengetahui] bagaimana sepak terjang Ahok,” lanjut Ahok.

Sunny, menurut Ahok, jarang masuk kantor Balai Kota. Ini karena dia juga bekerja di tempat lain. “Kerja di salah satu konglomerat,” kata Ahok.

Sunny memang punya latar belakang dari lingkungan konglomerat. Ahok menyebut Sunny adalah sepupu konglomerat. Ahok sendiri sering bertemu dengan Sunny dan konglomerat-konglomerat dalam pertemuan yang normal, sekadar makan empek-empek. “[rumahnya] Satu kompleks kok,” kata Ahok.

Soal hubungan dia dengan Sanusi dari DPRD DKI, itu sebatas hubungan pekerjaan yang harus diselesaikannya saja. “Kenal Sanusi karena dia pengin dengerin sikap DPRD ke Ahok. Dia lagi buat kajian, dia juga ketemu Pak Prabowo [Subianto], Pak Hasyim [Djojohadikusumo], ketemu konglomerat si Tahir [Sri Datuk Tahir],” kata Ahok.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…