Bandung Mawardi (Dok/JIBI/Solopos) Bandung Mawardi (Dok/JIBI/Solopos)
Rabu, 6 April 2016 07:10 WIB Kolom Share :

GAGASAN
Kota Solo, Sriwedari, Hiburan, Makanan

Corak Berbeda

Tahun demi tahun berlalu. Sriwedari bertambah ramai. Solo semakin maju. Hiburan dan makanan di Sriwedari jadi pilihan utama. Sriwedari adalah keramaian. Pengertian itu disampaikan oleh penulis berjulukan Wong Solo dalam artikel berjudul Sedjarah Maleman Sriwedari Solo yang dimuat di majalah Minggu Pagi edisi 15 Juni 1952.

Pada masa 1920-an, Sriwedari memang memesona. Wong Solo menjelaskan peningkatan jumlah pengunjung memicu kedatangan para pedagang. Berebutan para pedagang buka stand disana. Stand barang-barang mainan, stand rumah makan, stand sulapan, stand barang-barang keradjinan, malah Draaimolen dan Wefmolen ikut meramaikan pula.

Sriwedari adalah pusat hiburan, mainan, dan makanan. Masa itu kemudian berlalu. Keramaian Sriwedari pada masa 1920-an kemudian berganti dengan keramaian berbeda corak dan sajian pada abad XXI. Kini, Sriwedari bakal memiliki lakon terbaru dengan kedatangan 50-an pedagang makanan.

Mereka berpindah dari pinggiran Jl. Slamet Riyadi. Pemerintah Kota Solo sengaja menata ulang para pedagang agar berkumpul di kawasan Sriwedari. Semula mereka berjualan dan mendapat pelanggan di pinggir jalan. Pemindahan membuat pedagang harus menjalankan siasat agar tetap laku dan pelanggan rela datang meski berjarak jauh dari tempat bekerja.

Pada 1 April 2016 para pedagang kaki lima itu mendorong gerobak makanan masuk ke kawasan Sriwedari dalam upacara simbolis dan birokratis. Pemimpin dan pejabat pemerintahan memberi sambutan ramah terkait kehadiran para pedagang.

Sriwedari semakin ramai dengan pelbagai hal: kios buku, perkantoran, museum, dan tempat jajan makanan. Di sela acara, wartawan mencatat perbincangan para pedagang. “Dulu, kandang gajah di situ,” kata seorang pedagang. Perbincangan mengingatkan mereka pada masa lalu Kebon Raja atau Bonraja (Solopos, 2 April 2016).

Ingatan Sriwedari muncul saat pedagang mulai berharap mendapat rezeki dan membentuk biografi baru. Di Sriwedari, orang-orang mencari hawa segar, hiburan, buku, dan makanan. Sejak seabad silam, Sriwedari memang tempat orang-orang menunaikan kerja untuk mendapat nafkah kehidupan.

Pemerintah bekerja menata tempat berjualan. Pedagang rela berpindah asalkan tetap bisa mencari rezeki dari penjualan pelbagai makanan. Mereka ingin memberi cerita dan nuansa baru di Sriwedari. Mereka tak memiliki kewajiban mengerti lakon Sriwedari masa lalu melalui sajian iklan, novel, dan artikel. Sriwedari tetap ada. Kita  berharap Sriwedari selalu memiliki makna baru.

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (05/01/2018). Esai ini karya Ahmad Halim, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Administrasi Jakarta Utara. Alamat e-mail penulis adalah ah181084@gmail.com Solopos.com, SOLO–Pemberlakuan UU No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum (gabungan UU No. 8/2012, UU…