Suasana pemandangan perkebunan karet milik Perseroan Terbatas Perkebunan Negara (PTPN) IX di Desa Polokarto, Kecamatan Polokarto, Minggu (3/4/2016). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos)
Selasa, 5 April 2016 08:30 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

WISATA SUKOHARJO
Ini Lho, Alaska Yang Jadi Buruan Fotografer dan Calon Pengantin

Wisata Sukoharjo berupa alas karet (Alaska) di Polokarto menarik perhatian para fotografer dan calon pengantin.

Solopos.com, SUKOHARJO – Deretan ribuan pohon karet menjulang tinggi ke angkasa. Sinar matahari menembus di antara celah daun-daun pohon. Dedaunan kering terlihat berserakan di tanah membentuk lingkaran kecil yang mengelilingi sebuah pohon. Hembusan angin sepoi-sepoi menyapu dedaunan kering.

Rata-rata tinggi pohon karet itu antara lima-delapan meter. Namun, tinggi pohon karet dewasa bisa mencapai lebih dari 15 meter. Deretan ribuan pohon karet dibatasi sebuah jalan setapak yang hanya bisa dilewati sepeda motor.

Perkebunan pohon karet itu berada di Desa Polokarto, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo. Perkebunan karet itu merupakan milik Perseroan Terbatas Perkebunan Negara (PTPN) IX. Lahan perkebunan karet di Polokarto seluas 48,32 hektare dengan jumlah tanaman karet sebanyak 26.820 pohon. Warga setempat memberi nama perkebunan karet itu Alaska yang berasal dari akronim Alas dan Karet. Akronim itu berasal dari Bahasa Jawa yang bermakna hutan karet.

Memang hanya deretan pohon karet yang berjejer rapi yang bisa ditemui di Alaska. Namun, beberapa spot deretan pohon karet mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pecinta fotografi. Suasana yang sejuk, asri, ditambah background menawan batang pohon karet menjadi lokasi paling diburu para fotografer.

Mereka kerap berburu foto landscape di sejumlah lokasi perkebunan karet. Apalagi, pemandangan perkebunan karet tak kalah elok dengan birunya pantai atau hijaunya gunung.

“Para fotografer memang sering ke sini [perkebunan karet]. Biasanya pada pagi hari hingga siang hari. Kalau musim penghujan seperti sekarang sangat jarang. Mereka biasanya berburu foto saat musim kemarau,” kata seorang warga Desa Polokarto, Sardiman, 37.

Saat dini hari, biasanya para pekerja PTPN menyadap pohon karet. Mereka menyisir perkebunan karet untuk mencari pohon karet dewasa. Getah pohon karet ditampung di mangkok aluminium atau plastik. Setelah mangkok penuh getah karet maka dipindah ke bak penampungan karet berukuran besar.

Tak sedikit para fotografer mengabadikan aktifitas para penyadap karet pada dini hari. Foto itu menggambarkan keseharian para penyadap karet yang giat bekerja di tengah dinginnya malam hari.

“Dahulu saya sering ikut menyadap karet. Saya pernah bertemu dengan beberapa fotografer asal luar Sukoharjo. Mereka sengaja datang ke lokasi Alaska karena ingin mengabadikan aktivitas penyadap karet,” papar dia.

Lantaran menjadi salah satu lokasi paling diburu para fotografer, tak sedikit calon pasangan pengantin memilih Alaska sebagai lokasi foto prewedding. Mereka bisa mengeksplor berbagai gaya dan dikomentasikan dalam foto. Para calon pasangan pengantin memilih lokasi Alaska karena mempunyai background foto yang ciamik. “Ya memang ada calon pasangan pengantin yang mendokumentasikan foto prewedding di Alaska. Namun hanya beberapa tidak banyak,” ujar warga setempat lainnya, Nanang, 32.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…