Safira Delicateza, siswi XII IPA SMA Budya Wacana Jogja [putih abu-abu], sedang mengerjakan UN CBT mata pelajaran Bahasa Indonesia, pada Senin (4/4/2016). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Safira Delicateza, siswi XII IPA SMA Budya Wacana Jogja [putih abu-abu], sedang mengerjakan UN CBT mata pelajaran Bahasa Indonesia, pada Senin (4/4/2016). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 5 April 2016 16:20 WIB Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

UNBK 2016
Siswa Berkebutuhan Khusus Tak Dapat Tambahan Waktu

UNBK 2016 untuk siswa berkebutuhan khusus tidak mendapatkan tambahan waktu

Solopos.com, JOGJA– Siswa berkebutuhan khusus tidak diberikan waktu tambahan untuk mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK)

Sebelumnya, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan, bahwa untuk siswa berkebutuhan khusus, mereka diberikan toleransi 20 hingga 30 menit untuk mengerjakan soal Ujian Nasional (UN) 2016.

Namun pada kenyataannya, kebijakan tersebut tidak dapat diterapkan untuk peserta berkebutuhan khusus UN Berbasis Komputer (UNBK) seperti siswa XII IPA SMA Budya Wacana bernama Safira Delicateza.

Safira Delicateza terlihat sumringah dan menyapa salah seorang temannya di depan ruangan transit siswa, usai mengerjakan UN, pada Senin (4/4). Padahal sebelumnya, meski hanya dilihat dari belakang, Safira yang pagi itu rambutnya dikucir kuda nampak serius menatap komputer dan mengerjakan soal mata pelajaran Bahasa Indonesia, sendirian tanpa ditemani peserta lainnya.

Ketika mengerjakan soal CBT, setelah waktu mengerjakan selama dua jam habis, maka halaman soal peserta di layar komputer kemudian akan berada dalam kondisi log out.

Artinya, tak ada waktu tambahan bagi peserta. Namun ternyata Safira, justru bisa menyelesaikan soal, sebelum waktu dua jam yang diberikan itu habis terpakai.

“Masih ada sisa sedikit sih, tapi enggak lihat tadi sisa berapa menit,” sebut putri pertama dari tiga bersaudara tersebut.

Ketika ditanya mengenai soal bahasa indonesia yang dikerjakannya, ia mengaku tidak terlalu kesulitan. Hanya saja memang soal yang harus ia baca cukup panjang. Ia tidak dapat memberikan persentase seberapa yakin ia dapat menjawab soal tersebut dengan benar.

Yang pasti, sekalipun memiliki ketunaan low vision, tak ada kendala yang ia hadapi saat mengerjakan soal, bahkan justru menikmati UNBK.

“Lebih enak karena tinggal mengklik jawaban pada komputer, dan lebih cepat menyelesaikan UN, tidak harus melingkari kertas,” ujar pemilik hobi membaca buku pengetahuan ini.

Gadis yang mengaku tidak suka memiliki waktu luang ini sesungguhnya telah diterima kuliah di Program Studi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma lewat jalur rapor, Safira selama ini selalu menempati peringkat tiga besar. Namun ia tetap berharap meraih nilai baik dalam UN.

Wali murid XII IPA Sih  Hendri Saptati mengungkapkan, sejak awal tidak adanya tambahan waktu bagi peserta berkebutuhan khusus ini menjadi kekhawatiran sekolah.

Ia memperkirakan, kebijakan tambahan waktu 20 sampai 30 menit itu hanya dapat diberikan kepada peserta UN berbasis kertas. Meski demikian ia tetap berdoa bahwa Safira dapat tetap menyelesaikan mengerjakan soal dengan baik.

LOWONGAN PEKERJAAN
FORTUNA STEEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…