Safira Delicateza, siswi XII IPA SMA Budya Wacana Jogja [putih abu-abu], sedang mengerjakan UN CBT mata pelajaran Bahasa Indonesia, pada Senin (4/4/2016). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja) Safira Delicateza, siswi XII IPA SMA Budya Wacana Jogja [putih abu-abu], sedang mengerjakan UN CBT mata pelajaran Bahasa Indonesia, pada Senin (4/4/2016). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 5 April 2016 16:55 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

UN 2016
Ujian Siswa "Low Vision" Dibacakan Pendamping

UN 2016 untuk siswa low vision dibacakan guru pendamping

Solopos.com, KULONPROGO- SMK Muhammadiyah 2 Wates, Kulonprogo menyediakan satu orang guru pendamping untuk siswanya yang memiliki keterbatasan penglihatan dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Pendamping tersebut membantu dalam membacakan soal-soal ujian serta melingkari jawaban dalam lembar jawab peserta.

Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 2 Wates, Yukhroni menjelaskan bahwa ada satu orang siswanya yang membutuhkan pendampingan dalam pelaksanaan UN kali ini.

Siswa tersebut memiliki keterbatasan berupa low vision yang membuatnya sulit membaca soal ujian. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya pihak sekolah sudah mencoba untuk menyesuaikan ukuran huruf agar mudah dibaca oleh siswa tersebut namun tetap masih sulit.

“Sudah kita coba sampai font ukuran 24 tapi tetap sulit,” jelasnya saat ditemui di SMK Muhammadiyah 2 Wates pada Senin (4/4/2016).

Karena itu, pihaknya kemudian berkonsultasi dengan Dinas Pendidikan DIY dan diberikan solusi untuk menyediakan pendamping bagi siswa tersebut. Pendamping tersebut membantu membacakan soal ujian kepada siswa serta proses lainnya selama pelaksanaan ujian.

Sesuai aturan, siswa tersebut juga ditempatkan di ruangan tersendiri bersama dengan pendamping dan pengawas.

SMK Muhammadiyah 2 Wates sendiri masih melaksanakan UN dengan sistem Paper Based Test (PBT) sehingga pendamping juga membantu melingkari jawaban yang dipilih siswa dalam lembar jawaban yang tersedia. Yukhroni menjelaskan bahwa pendamping tersebut dipilih dari kalangan guru sekolahnya dan memiliki kesabaran.

“Kami pilih yang sudah pernah berinteraksi dengan siswa tersebut dan sabar,”jelasnya.

Bariyah, pendamping siswa serta guru IPS sekolah tersebut menjelaskan bahwa selama pelaksanaan ujian tidak ada hambatan yang berarti. Hanya saja, jenis soal mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diujikan hari ini banyak dilengkapi dengan teks-teks panjang sehingga membuat waktu yang disediakan terlalu mepet.

“Waktunya ngepas karena teksnya panjang,” ujarnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…