Anggota TNI AU menanam pohon di dekat monumen pesawat latih Vultee BT-13 Valiant buatan 1940 di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo, Kamis (14/1/2016). (Ahmad Fauzan/JIBI/Solopos)
Selasa, 5 April 2016 18:15 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

TAMAN JURUG SOLO
Program Adopsi Minim Peminat

Taman satwa taru jurug, peminatan program adopsi satwa di TSTJ minim.

Solopos.com, SOLO–Program adopsi satwa di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Kelurahan Jebres, Jebres, Solo yang digalakan sejak Mei 2015 lalu minim peminat.

Direktur TSTJ, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan hanya empat sukarelawan yang mendukung pelaksanaan program adopsi satwa di TSTJ. Mereka menyokong pemeliharan beberapa satwa di kebun binatang tersebut. Menurut dia, TSTJ menjaring sukarelawan sebanyak-banyaknya dalam program adopsi.

“Saya berkali-kali menyosialisasikan program adopsi agar semakin booming, namun tidak kunjung berhasil. Belum banyak jumlah sukarelawan yang bisa menyukseskan program ini. Baru ada empat sukarelawan yang masuk,” kata Bimo di sela-sela kegiaran karya bakti Lanud Adi Soemarmo di TSTJ, Selasa (5/4/2016).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, TSTJ menghabiskan dana sekitar Rp85 juta per bulan hanya untuk pakan satwa. Jumlah tersebut cukup besar merujuk pendapatan TSTJ ped bulan yang pas-pasan. Program adopsi membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam penanganan satwa di TSTJ.

Bimo mengungkapkan program adopsi satwa terbuka bagi masyarakat sipil, swasta, maupun komunitas sosial. TSTJ menampung 263 ekor hewan dari 54 jenis satwa yang dapat diadopsi dengan cara memberi bantuan pakan. Selain itu, menurut dia, sukarelawan pada program adopsi berhak membantu revitalisasi infrastuktur kandang.

“Misalnya mau adopsi singa, sukarelawan boleh sekali sekaligus memperbaiki kandang, bukan hanya memberi pakan. Di TSTJ kan bukan hanya satwa, melainkan ada tumbuhan. Sukarelawan juga boleh membuat taman. Sukarelawan bisa saja dari perseorangan, kelompok, maupun perusahaan,” jelas Bimo.

Bimo menekankan program adopsi satwa yang digalakan TSTJ memiliki mekanisme yang berbeda dengan adopsi pada umumnya. Progran adopsi tersebut bukan berarti sukarelawan boleh membawa pulang satwa. Ditanya soal keuntungan mengikuti program adopsi, Bimo menyebut, TSTJ bakal membantu membranding sukarelawan.

“Kami bisa pasang papan petunjuk atau iklan yang menyatakan perusahaan atau sukarelawan tertentu telah memberikan sponsor atau bantuan berupa pakan satwa dan lain sebagainya kepada TSTJ. Siapa saja yang ingin mengikuti program adopsi, tinggal telepon atau datang ke TSTJ. Kami akan tawarkan beberapa pilihan,” ungkap Bimo.

Sementara itu, Komandan Skadik 401 Lanud Adi Soemarmo, Mayor (Pnb) Urip Widodo, berpendapat kawasan TSTJ masih butuh penanganan dan penataan dari berbagai pihak. Kondisi tersebut, menurut dia, salah satunya menjadi alasan Lanud Adi Soemarmo mengerahkan 140 personel untuk melaksanakan karya bakti di TSTJ. Petugas membersihkan kawasan TSTJ dengan memotong rumput dan menyapu.

“Kami melaksanakan karya bakti dalam rangka merayakan HUT ke-70 TNI. Kami terjun ke TSTJ juga karena terdapat aset TNI AU berupa pesawat yang perlu mendapat perawatan. Kami melaksanakan program peduli konservasi,” kata Urip Widodo.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…