Warga memblokir akses kendaraan pengangkut sampah masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Jomboran, Klaten, Sabtu (7/2/2015). Pemblokiran dilakukan sebagai buntut kekesalan warga terkait sikap Pemkab setempat yang tak kunjung menutup TPA. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Warga memblokir akses kendaraan pengangkut sampah masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Jomboran, Klaten, Sabtu (7/2/2015). Pemblokiran dilakukan sebagai buntut kekesalan warga terkait sikap Pemkab setempat yang tak kunjung menutup TPA. (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Selasa, 5 April 2016 17:40 WIB Ponco Suseno/JIBI/Solopos Klaten Share :

PENGELOLAAN SAMPAH KLATEN
Pemkab Lirik TPA Jomboran

Pengelolaan sampah Klaten, TPA Jomboran menjadi alternatif setelah TPA Joho melebihi kapasitas.

Solopos.com, KLATEN–Kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) Joho Kecamatan Prambanan yang segera overcapacity dalam dua pekan mendatang memaksa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten melirik TPA Jomboran Kecamatan Klaten Tengah sebagai TPA alternatif. TPA Jomboran yang sudah ditutup beberapa tahun lalu itu dinilai paling representatif untuk menampung volume sampah 50 ton per harinya.

Hal tersebut diungkapkan Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Klaten, Purwanto Anggono Cipto, saat ditemui Solopos.com, di Delanggu, Selasa (5/4/2016). Luas areal TPA Jomboran yang dibutuhkan Pemkab sebagai TPA alternatif kurang dari 1.000 meter persegi.

“Beberapa waktu lalu memang ada gejolak di masyarakat Joho [penolakan pembuangan sampah]. Untuk mengatasi hal itu, kami akan gunakan lagi TPA di Jomboran untuk sementara waktu. Saat ini, Pak Anwar dari bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Klaten sedang menjalin negosiasi dengan pemerintah desa (pemdes) setempat,” katanya.

Purwanto mengatakan penanganan sampah di Klaten menjadi skala prioritas. Terlebih saat ini, kondisi curah hujan masih tinggi. Jika tak segera dicarikan TPA alternatif, penanganan sampah yang lamban dikhawatirkan akan menimbulkan masalah, seperti bau dan lalat.

“Harus segera dicarikan solusinya. Kalau membangun TPA Gemampir di Kecamatan Karangnongko atau menunggu TPA Troketon butuh waktu lama. Kebetulan, dalam dua pekan ini sampah masih bisa dibuang ke TPA Joho. Selanjutnya, kami akan membuang lagi ke Jomboran di Klaten Tengah. Modelnya, setelah dibuang, kami akan uruk sampah itu dengan pasir agar tak muncul bau dan lalat,” katanya.

Hal senada dijelaskan Kabid Kebersihan dan Pertamanan DPU dan ESDM Klaten, M. Anwar Shodiq. Saat ini, DPU sudah bisa membuang sampah ke TPA Joho. Namun, TPA di Prambanan tersebut segera mengalami overcapacity dalam dua pekan mendatang.

“Kondisinya sudah akan penuh. Hasil koordinasi dengan asisten perekonomian, memang TPA Jomboran bisa digunakan lagi. Tapi, kami harus kulonuwun dengan pemdes dan warga yang ada di sana. Semoga, nanti bisa berhasil dan tak ada gejolak. Yang perlu diketahui, persoalan sampah ini adalah persoalan bersama [semua elemen masyarakat harus memberikan dukungan],” katanya.

Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com, warga Joho Kecamatan Prambanan sempat menolak petugas DPU dan ESDM agar tak membuang sampah di TPA Joho per Rabu (30/3/2016). Akibat penolakan tersebut, beberapa truk sampah yang hendak membuang sampah ke TPA Joho sempat balik kanan. Setelah dilakukan negosiasi antara petugas DPU dengan warga, akhirnya DPU bisa membuang sampah ke TPA Joho untuk waktu dua pekan ke depan.

lowogan pekerjaan
Supervisor Produksi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….