Seorang pembeli memilih dagangan dilapak pedagang sembako di Pasar tradisional Piyungan. Pada hari pertama berlakunya harga baru BBM, sejumlah harga kebutuhan pokok untuk non-pabrikan sudah mulai berguguran seperti sayuran, daging, telur, beras dan cabai. (JIBI/Harian Jogja/Endro Guntoro) Ilustrasi aktivitas pedagang di pasar tradisional. (JIBI/Harian Jogja/Dok)
Selasa, 5 April 2016 13:15 WIB Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

PASAR DARURAT
Pemkab Hanya Sediakan 70% Fasilitas di Pasar Darurat

Pasar darurat Nglano dan Matesih tidak akan dilengkapi dengan fasilitas seperti pasar induk.

Solopos.com, KARANGANYAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar tidak akan memindahkan seluruh fasilitas di pasar induk ke pasar darurat Nglano dan Matesih.

Alasannya adalah luas lahan pasar darurat dan alokasi dana terbatas. Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Disperindagkop dan UMKM) Kabupaten Karanganyar, Budi Wahyono, menuturkan Pemkab hanya menyediakan 70% fasilitas yang ada di pasar induk ke pasar darurat.

Pemkab hanya menyediakan 120 kios darurat untuk pedagang Pasar Nglano dan 128 kios darurat untuk pedagang Pasar Matesih. Selain itu, Pemkab mengadakan dua tenda doom ukuran 20 meter x 10 meter di masing-masing pasar. Tenda untuk mengakomodasi pedagang yang belum mendapatkan kios di pasar darurat.
“Pemilik kios yang mengantongi surat hak penempatan [SHP] punya tiga ya kami berikan satu. Ukuran kios darurat 3 meter x 3 meter. Jumlah kios pasar darurat enggak sebanyak yang di pasar induk. Pertimbangan luas lahan dan jumlah dana. Namanya pasar darurat kan enggak sama persis dengan pasar induk,” kata Budi saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (5/4/2016).

Informasi yang dihimpun Espos dari berbagai sumber Pasar Nglano menampung 1.200 pedagang pada sekitar 200 kios, los, dan oprokan. Namun, Pemkab hanya menyediakan 120 kios darurat dan dua tenda doom. Pasar Matesih menampung 162 kios, tetapi Pemkab hanya menyediakan 128 kios dan dua tenda doom.

“Kemungkinan jumlah pedagang berkurang saat di pasar darurat. Kami mendapat informasi pedagang akan berjualan di rumah atau malah libur selama pembangunan pasar. Kami berusaha menyediakan fasilita memadai agar pedagang tetap dapat berjualan dengan layak,” kata dia.

Pantauan solopos.com di website Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Karanganyar, Disperindagkop dan UMKM sedang melelang empat paket. Belanja pembangunan pasar darurat (Pasar Nglano Tasikmadu dan Pasar Matesih) dan pengadaan alat kantor lainnya (belanja modal tenda doom Pasar Nglano dan Pasar Matesih).

Nilai pagu paket belanja pembangunan pasar darurat Pasar Nglano Rp1,6 miliar sedangkan Pasar Matesih Rp1,8 miliar. Nilai pagu paket pengadaan alat kantor lainnya belanja modal tenda doom Pasar Nglano dan Pasar Matesih Rp733 juta.
Pasar darurat Pasar Nglano akan dibangun di lapangan Desa Ngijo sedangkan pasar darurat Pasar Matesih di lapangan Desa Matesih.

“Lelang pasar darurat. Tenda itu setiap pasar mendapatkan dua. Kami target dua bulan. Sebelum puasa harus selesai dibangun [pasar darurat]. Ini tahapan mepet banget. Pasar darurat menggunakan gasvalum rangka besi dan lantai rabat yang penting enggak becek,” jelas dia.

 

lowongan pekerjaan
EDITOR MATEMATIKA (Fulltime), informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….