Petugas Satresnarkoba Polres Sleman memborgol tangan kurir sabu yang tertangkap basah akan menyelundupkan sabu di PN Sleman, Selasa (5/4/2016).(Sunartono/JIBI/Harian Jogja) Petugas Satresnarkoba Polres Sleman memborgol tangan kurir sabu yang tertangkap basah akan menyelundupkan sabu di PN Sleman, Selasa (5/4/2016).(Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 5 April 2016 18:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

NARKOBA DI LAPAS
Pengunjung Simpan Ratusan Butir Psikotropika di Ikat Pinggang

Narkoba di Lapas, kurir kembali ditangkap

Solopos.com, SLEMAN – Seorang pengunjung Lapas Narkotika Kelas IIA Pakem Sleman menyelundupkan ratusan butir psikotropika untuk diberikan kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) dalam jam besuk bebas pada, Senin (4/4/2016) siang. Pengunjung memasukkan narkoba itu ke dalam ikat pinggang tetapi diketahui petugas Keamanan Lapas saat memeriksa di pintu masuk menuju ruang bertemunya pengunjung dengan WBP.

Pelaku yang sudah ditahan polisi, diketahui bernama Danang Subekti, warga Ngajeg RT02/RW01 Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Ia pernah ditangkap Polres Sleman dan menjalani hukuman di Lapas Pakem pada 2015 silam dalam kasus narkoba. Pil psikotropika itu akan diberikan kepada seorang WBP bernama Deri Indra.

Kepala Kanwil Kemenkumham DIY Pramono menjelaskan, upaya memasukkan narkoba itu terjadi saat jam besuk, Senin (4/4/2016) siang. Sebelum bertemu dengan WBP, pengunjung tersebut harus melalui pemeriksaan ketat petugas Lapas. Setibanya di pemeriksaan terakhir, pelaku diperiksa seluruh pakaiannya tak terkecuali ikat pinggang. Ketika itulah, petugas Lapas menemukan barang mencurigakan terbungkus warna hitam di balik ikat pinggang. Setelah dibuka ternyata berisi pil warna putih berjumlah 101 butir yang diduga sebagai Riklona, merupakan jenis psikotropika.

“Setiap jam besuk pemeriksaan kita perketat, kemarin petugas menemukan pil tersebut,” tegas Pramono melalui ponselnya, Selasa (5/4/2016).

Pelaku sengaja membawa psikotropika itu dengan maksud akan diberikan kepada seorang WBP, Deri Indra. Kini warga binaan itu dalam pengawasan petugas. Sanksi tegas, kata dia, akan diberikan kepada warga binaan yang meminta kiriman narkoba tersebut. Sanksi itu dalam bentuk  penghapusan hak-haknya sebagai WBP.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…