Kendaraan melintas di jalan yang memisahkan Gunung Pegat di Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri, Minggu (4/4/2016). (JIBI/Solopos/Rudi Hartono) Kendaraan melintas di jalan yang memisahkan Gunung Pegat di Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri, Minggu (4/4/2016). (JIBI/Solopos/Rudi Hartono)
Selasa, 5 April 2016 20:15 WIB Rudi Hartono/JIBI/Solopos Wonogiri Share :

MISTERI WONOGIRI
Kisah Pasutri Usia 35 Hari Dilarang Lewat Gunung Pegat

Misteri Wonogiri salah satunya di Gunung Pegat masih kuat. Berkembang mitos pasangan suami istri dilarang melewati wilayah itu.

Solopos.com, WONOGIRI — Mitos atau cerita rakyat yang mengandung penafsiran tertentu ihwal Gunung Pegat di Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri, masih tumbuh subur di masyarakat moderen seperti sekarang ini.

Mitos gunung yang dilalui jalur penghubung Kecamatan Ngadirojo-Nguntoronadi, Tirtomoyo, Baturetno, dan Batuwarno itu tak terlepas dari namanya, yakni pegat.

Pegat dalam bahasa Jawa berarti putus atau pisah. Mitos yang berkembang menyebutkan pasangan pengantin usia pernikahannya kurang dari selapan atau 35 hari jika melalui gunung itu pagi, siang, maupun malam bisa pegatan atau berpisah.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti mitos itu berkembang sejak kapan. Cerita yang diterima Solopos.com, dahulu terdapat dua gunung yang menyatu. Namun, suatu ketika gunung itu dipisahkan oleh jalan.

Terlepas dari cerita yang sekadar dianggap mitos, namun kenyataannya tidak sedikit pasangan pengantin baru yang memilih menghindari Gunung Pegat jika bepergian.

Warga Kecamatan Wonogiri yang sebelumnya bertempat tinggal di Baturetno, Priyo, saat ditemui Solopos.com di kawasan kota Wonogiri, Minggu (4/4), mengaku saat menjadi pengantin baru 1998 silam setiap hari memilih melewati jalur Pracimantoro sejauh kurang lebih 70 kilometer (km) jika pergi bekerja ke Wonogiri atau saat pulang bekerja.

Perjalanan jauh itu dia tempuh untuk menghindari Gunung Pegat. Padahal, jika melalui Gunung Pegat perjalannya hanya separuhnya. Lelaki berusia sekitar 40-an tahun itu bersedia melakukannya karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya yang menganggap mitos Gunung Pegat bikin pengantin baru pegatan benar adanya.

“Saya tidak mau nantinya jadi tertuduh. Misal saya nekat melalui Gunung Pegat, ndelalah ada kejadian yang tidak diinginkan, orang-orang bakal menyalahkan saya karena enggak nurut sama orang tua,” kata dia.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…