Kajari Ambarawa, Said Muhammad (kanan), menerima hadiah ayam betina dari Koordinator Aksi gabungan LSM peduli tindak pidana korupsi se Kabupaten Semarang, Yohanes Sugiwiyarno (kiri) di Kantor Kejari Ambarawa, Selasa (5/4/2016). Kajari Ambarawa, Said Muhammad (kanan), menerima hadiah ayam betina dari Koordinator Aksi gabungan LSM peduli tindak pidana korupsi se Kabupaten Semarang, Yohanes Sugiwiyarno (kiri) di Kantor Kejari Ambarawa, Selasa (5/4/2016).
Selasa, 5 April 2016 19:50 WIB Imam Yudha S/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

KORUPSI SEMARANG
Kejari Ambarawa Dihadiahi Ayam Betina

Korupsi Semarang, khususnya yang terjadi di Kabupaten Semarang membuat belasan LSM mendatangi Kantor Kejari Ambarawa.

Solopos.com, AMBARAWA – Belasan koordinator Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi di Kabupaten Semarang mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambarawa, Selasa (5/4/2016) pagi. Sambil membawa ayam betina dan borgol mereka menemui Kepala Kejari (Kajari) Ambarawa, Said Muhammad.

Ada sekitar 15 LSM di Kabupaten Semarang yang terlibat dalam aksi itu, antara lain yakni, LPKPP, Gerak, Gempar, Pangkas, LP3, YLKI, Kompak, hingga GNPM. Alasan mereka melakukan aksi itu agar Kejari Ambarawa lebih berani dalam mengungkap kasus-kasus korupsi di Kabupaten Semarang yang selama ini tidak ada kejelasan.

Koordinator aksi yang juga merupakan perwakilan LSM Gerak, Yohanes Sugiwiyarno, mengaku memang sengaja menemui Kajari Ambarawa, Said Muhammad, dengan membawa seekor ayam betina dan borgol. Ayam betina diberikan sebagai sindiran agar Kajari lebih berani dalam mengungkap kasus-kasus korupsi, sedangkan borgol sebagai penyemangat agar para pelaku korupsi yang sudah terungkap segera ditangkap.

“Kedatangan kami kemari sebenarnya untuk memberi dukungan agar Kajari bekerja sungguh-sungguh dalam mengungkap kasus korupsi di Kabupaten Semarang, terutama yang melibatkan anggota dewan [DPRD] dan pejabat eksekutif, dalam kurun 2010-2015. Keterlibatan mereka inilah yang kami duga membuat kasus-kasus ini mandeg,” ujar Yohanes kepada wartawan seusai audensi.

Yohanes mengaku ada beberapa kasus korupsi yang hingga kini belum terungkap, salah satunya adalah korupsi pembangunan pacuan kuda Tegalwaton yang terjadi pada 2012 lalu. Selain itu, Yohanes juga menilai Kejari Ambarawa lambat dalam mengungkap kasus dugaan korupsi kunjungan kerja (Kunker) dan bimbingan teknis (Bintek) DPRD Kabupaten Semarang selama tahun anggaran 2013-2015.

Audiensi

Terpisah, Said Muhammad menyambut apresiatif audensi dari gabungan LSM dan elemen masyarakat yang peduli dengan tindak pidana korupsi di wilayah kerjanya itu. Ia menjelaskan sebenarnya kasus-kasus itu masih dalam proses penanganan.

“Intinya, kasus-kasus itu penyelidikannya tetap berjalan. Seperti korupsi pacuan kuda, saat ini kami sedang menunggu berkas dari BPKP [Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan] terkait besarnya kerugian negara dalam kasus itu. Mungkin, bulan-bulan ini berkasnya turun, setelah itu kami akan panggil lagi saksi-saksinya,” ujar Said.

Said menambahkan kasus korupsi di Kabupaten Semarang memang tidak mudah dipecahkan. Kondisi ini tak lain karena pihaknya harus berhadapan dengan para pelaku yang mayoritas kaum terpelajar dan juga memiliki bargaining dalam pemerintahan.

“Jadi enggak semudah mengungkap kasus pencurian. Oleh karena itu, kami minta masyarakat bersabar. Intinya kami di sini tetap bekerja,” imbuh Said.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…