Ichwan Prasetyo (Dok/JIBI/Solopoa) Ichwan Prasetyo (Dok/JIBI/Solopoa)
Selasa, 5 April 2016 03:30 WIB Kolom Share :

KOLOM
Wajah Baru Kapitalisme

Kolom kali ini, Senin (4/4/2016), ditulis jurnalis Solopos Ichwan Prasetyo.

Solopos.com, SOLO — Term ”ekonomi berbagi” atau ”sharing economy” memunculkan optimisme tentang kebangkitan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Salah satu basis pengembangan ekonomi berbagi adalah kreativitas dengan fondasi platform online.

Ekonomi berbagi adalah konsep bisnis yang membuka akses seluas-luasnya terhadap sumber daya yang dimiliki individu atau perusahaan (korporasi) untuk dimanfaatkan atau dikonsumsi bersama orang lain.

Semangat yang melatarbelakangi praksis demikian ini adalah efisiensi pemanfaatan sumber daya sekaligus efisiensi konsumsi. Kunci utama kesuksesan praksis ini adalah kepercayaan dan reputasi ditambah keamanan, legalitas, dan transparansi.

Salah satu pemahaman teknis dari praksis ekonomi berbagi adalah berbisnis bersama-sama tanpa modal banyak. Siapa pun bisa turut serta berbisnis tanpa harus menyediakan modal (uang) yang banyak, yang penting bisa dipercaya, bereputasi bagus, bersama-sama menjaga keamanan serta legalitas, dan berkomitmen untuk transparan.

Beberapa hari lalu seorang kawan datang ke rumah saya. Kawan saya ini, seorang perempuan berjiwa entrepreneur, menemui istri saya yang kebetulan dalam aktivitas hariannya salah satu kegiatannya punya kaitan erat dengan pemberdayaan ekonomi kaum difabel.

Kawan saya itu bermaksud menjalin hubungan dengan kaum difabel yang punya keterampilan memproduksi barang-barang kerajinanan namun kesulitan memasarkan. Kawan saya itu menawarkan platform jual beli secara online yang dia kelola untuk menjadi pemasar barang-barang kerajinan itu.

Relasi yang hendak dijalin tanpa keterlibatan modal berupa uang. Relasi yang hendak dijalin hanyalah kepercayaan dan transparansi pembagian keuntungan dan praksis pemasarannya.

Kawan saya itu menyediakan platform jual beli online yang dia kelola sebagai etalase sekaligus pemasar dan para difabel menyediakan barang kerajinan yang laku di pasar. Saya tidak tahu apakah relasi itu telah mulai dijalin atau belum.

Saya memaknai inilah praksis sederhana dari ekonomi berbagi. Dalam sebuah diskusi di kelas penulisan esai di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta pekan lalu, seorang mahasiswa di kelas itu mengemukakan praktik ekonomi berbagi sebenarnya telah ada sejak zaman dulu, jauh sebelum era Internet.

Relasi antara pemilik tanah, petani penggarap, buruh tani, dan tengkulak adalah praksis ekonomi berbagai. Saya sependapat dengan penuturan mahasiswa ini. Ada perbedaan platform praksis ekonomi berbagai yang diilustrasikan mahasiswa itu dengan yang dipraktikkan kawan saya tersebut.

Dalam praksis ekonomi berbagai “tradisional” itu antara pemilik tanah, petani penggarap, buruh tadi, dan tengkulak bertemu secara faktual dan masih mengedepankan sisi-sisi kemanusiaan.

Term ”berbagi” yang mereka praktikkan tak lepas dari semangat untuk benar-benar berbagi, semangat berbagi yang memang dilandasi oleh nilai-nilai kemanusiaan.

Term ”berbagi” dalam ”sharing economy” yang ”ngetren” belakangan ini tak mensyaratkan pertemuan faktual. Praksis berbagi semata-mata didasarkan pada praktik berdasar kesepakatan bersama tanpa dilandasi semangat kemanusiaan.

Semua yang terlibat dalam term ”berbagi” itu bekerja sendiri-sendiri dan sama-sama memburu keuntungan sebanyak-banyaknya. Siapa sebenarnya yang paling beruntung dari praksis ekonomi berbagi berbasis platform online itu? Tentu saja si penyedia platform itu.

Relasi ekonomi berbagi dalam usaha transportasi berbasis aplikasi online seperti Gojek, Grabcar, Uber Taxi, dan sejenisnya sepintas memang memberikan pendapatan yang lebih kepada jaringan terluar, yakni para sopir, namun sesungguhnya yang meraih keuntungan paling banyak adalah penyedia platform atau aplikasi online itu.

”Ketimpangan” pendapatan antara penyedia aplikasi online dengan anggota jaringan yang terluar itu bisa kita bayangkan, sangat timpang. Dalam konteks inilah saya sepakat dengan pendapat B. Herry Priyono, doktor filsafat dan pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Sebagaimana diberitakan Kompas, 30 Maret 2016, Herry menjelaskan praksis ekonomi berbagai berbasis platform online hanyalah bentuk lain dari praktik bisnis dalam sistem kapitalisme. Ekonomi berbagi berbasis platform online itu hanyalah wajah baru kapitalisme.

Ekonom Joseph Schumpeter, sebagaimana dikutip Herry dalam berita itu, mengemukakan term ”perusakan kreatif” atau creative destruction sebagai ilustrasi kinerja kapitalisme. Kapitalisme selalu menciptakan praksis-praksis bisnis baru yang menghancurkan model-model bisnis lama.

Hal demikian ini terjadi terus-menerus seiring perkembangan dan perubahan zaman, terutama juga perkembangan teknologi. Konsep ekonomi berbagi sebenarnya tak lepas dari peran pemodal asing, pemodal besar, yang agresif.

Dalam ranah kapitalisme, orientasi pemodal jelas cuma satu: mengembalikan modal secepatnya dan meraih untung sebanyak-banyaknya. Kemanusiaan, berbagi rasa, berbagi empati tak ada dalam praksis demikian.

Keunggulan ekonomi berbagai memang ada, yaitu dari sisi manajemen yang memang efisien. Persoalannya, logika-logika dan persoalan ruwet ala kapitalisme tak terselesaikan. Ketimpangan tetap mewujud, mengembang, dan menjadi entitas masalah global. [Baca selanjutnya: Kiri]

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…