Pesawat Batik Air yang mengalami tabrakan dengan pesawat Transnusa di Bandara Halim Perdanakusuma, Senin (4/4/21016) malam. (Istimewa/Twitter)
Selasa, 5 April 2016 19:30 WIB Ringkang Gumiwang/JIBI/Bisnis Peristiwa Share :

KECELAKAAN PESAWAT
Benturan Pesawat Batik Air Vs Transnusa, Pilotnya Punya 10.000 Jam Terbang

Kecelakaan pesawat Batik Air dan Transnusa di Bandara Halim Perdanakusuma masih diselidiki.

Solopos.com, JAKARTA — Lagi-lagi, tingkat keselamatan dan keamanan penerbangan nasional menjadi sorotan. Kali ini, pesawat milik Batik Air berbenturan dengan pesawat Transnusa Aviation di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta Timur, Senin (4/4/2016) malam pukul 19.55 WIB.

Ketika itu, pesawat Batik Air jenis Boeing 7370-800NG dengan nomor penerbangan ID 7703 membawa 49 penumpang dan tujuh kru tengah ancang-ancang untuk lepas landas menuju Makassar. Saat bersamaan, pesawat Transnusa jenis ATR 42-600 PK-TNJ juga tengah menyeberangi landasan pacu untuk menuju tempat parkir pesawat (apron) yang berada di selatan. Alhasil, benturan pun tak terhindarkan.

Akibatnya, ekor pesawat dan sayap bagian kiri pesawat Transnusa rusak. Begitu pula, ujung sayap kiri pesawat Batik Air. Beruntung, seluruh penumpang dan kru selamat, dan evakuasi dapat terlaksana dengan baik.

Meski begitu, penerbangan menuju Makassar terpaksa dibatalkan. Setelah itu, sebagian penumpang memilih membatalkan penerbangan. Ada pula yang meminta penerbangan ke Makassar, melalui Bandara Soekarno Hatta Cengkareng.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana bisa insiden senggolan antara pesawat itu bisa terjadi di landasan pacu. Apalagi pesawat Batik Air sudah mendapatkan izin dari menara pengawas (Air Trafik Control/ATC)) untuk lepas landas.

Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia mulai melakukan penyelidikan terkait insiden tersebut dengan membentuk tim investigasi internal.

Direktur Operasi AirNav Indonesia Wisnu Darjono mengatakan hal tersebut dilakukan mengingat semua pergerakan pesawat yang dipantau ATC berada di bawah tanggung jawab AirNav Indonesia, termasuk izin mendarat dan lepas landas.

Tidak ketinggalan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga menyelidiki insiden tersebut. KNKT akan melihat sejauh mana petugas ATC dalam menjalankan panduan kerja (standar operating procedure/SOP).

KNKT juga akan memanggil kru pesawat Batik Air dan perusahaan jasa operasi darat atau ground handling yang melayani pesawat Transnusa. Mereka akan dimintai keterangan terkait insiden pesawat tersebut.

Presiden Direktur Lion Group Edward Sirait menegaskan bahwa rekam jejak pilot yang bertugas (Pilot In Command/PIC) ketika kejadian tersebut cukup baik. Menurutnya, pilot Batik Air tersebut memiliki pengalaman lebih dari 10.000 jam.

“Pilotnya baik. Saya tidak tidak ada keraguan dengan pilot Batik Air. Yang pasti, pilot sudah mendapatkan izin lepas landas dari ATC,” katanya dalam konferensi pers yang digelar di Lion Air Tower.

Pria yang biasa disapa Edo ini menjelaskan bahwa pilot tidak melihat sebelumnya bahwa ada pesawat di landasan pacu ketika akan lepas landas. Beruntung, sang pilot sempat menghindar dan kemudian memberhentikan pesawatnya.

Ditanya mengenai kemungkinan penyebab insiden tersebut, dia memilih untuk tidak berkomentar. Menurutnya, maskapai yang tergabung dalam kelompok bisnis Lion Grup itu menyerahkan penyelidikan insiden tersebut kepada KNKT.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…