ilustrasi wartawan abal-abal (JIBI/dok)
Selasa, 5 April 2016 09:25 WIB Indah Septiyaning W./JIBI/Solopos Solo Share :

DISKUSI TERBUKA
Solo Tolak Wartawan Abal-abal!

Diskusi terbuka digelar di Balai Kota, Solo, Senin (4/4/2016) menyoal banyaknya keberadaan wartawan abal-abal.

Solopos.com, SOLO — Instansi pemerintah dan swasta di Kota Bengawan sepakat menolak keberadaan wartawan abal-abal. Mereka kian marak gerilya ke instansi-intansi dalam beberapa waktu terakhir.

Wartawan tanpa surat kabar tersebut dinilai meresahkan lantaran ujung-ujungnya meminta duit kepada narasumber. Hal itu mengemuka dalam diskusi terbuka dengan tema Kemampuan Kehumasan Menghadapi Media Massa di Era Keterbukaan yang digelar di Bale Tawangarum, Balaikota Solo, Senin (4/4/2016) siang. Kegiatan diikuti seluruh pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkot, TNI/Polri, organisasi dan korporasi se-Kota Solo.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo meminta narasumber harus berani bersikap tegas terhadap wartawan abal abal yang ujung ujungnya meminta uang. “Saya punya pengalaman dengan wartawan bodrek [abal-abal],” kata Rudy, sapaan akrabnya dalam sambutannya membuka diskusi tersebut.

Rudy mengaku saat menjabat sebagai Wakil Wali Kota (Wawali) pernah beberapa kali berhadapan dengan wartawan abal-abal yang meminta uang kepada SKPD di bawahnya. Selain itu namanya pernah dicatut mereka untuk aksi pemerasan SKPD bawahnya. Rudy meminta pimpinan SKPD dan instansi swasta lainnya jangan pernah takut saat menghadapi wartawan abal-abal. Rudy meminta SKPD melapor jika memang terintimidasi dengan keberadaan wartawan abal-abal.

“Begitu ada orang ngaku wartawan, langsung lapor ke saya. Saya akan langsung menghadapinya. Jangan pernah takut, apalagi kalau kita memang tidak ada kesalahan,” pinta Rudy sekaligus memberikan nomor telepon pribadinya kepada peserta diskusi.

Rudy memang dikenal tegas dalam menghadapi wartawan abal-abal. Terlebih ujungnya hanya minta duit atau motif ekonomi lainnya, ia tak segan segan untuk mengusirnya. Dalam era keterbukaan seperti sekarang, menurut Rudy, salah satu kuncinya adalah komunikasi.

Rudy berharap media massa tidak sekadar menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial. Namun juga harus menyajikan berita yang mendidik, membangun dan memotivasi masyarakat untuk maju.

“Keberadaan wartawan abal-abal ini harus kita tolak. Sekarang tidak hanya wartawan abal-abal saja, tapi LSM [lembaga swadaya manusia] abal-abal banyak bermunculan. Kita harus tegas tolak mereka, jangan takut,” pinta Rudy.

Plh Kabag Organisasi Setda Solo Agus Sutrisno juga meresahkan munculnya LSM abal-abal. Sama seperti wartawan abal-abal, LSM tersebut kerap kali ujung-ujungnya hanya meminta duit.

Wartawan senior di Solo, Ari Kristiyono mengatakan sebutan wartawan bodrek muncul di era 1980-an. Sebutan lainnya adalah wartawan tanpa surat kabar, wartawan muncul tanpa berita (muntaber), grandhong, vampire dan sejumlah nama lainnya.

“Namun intinya saya, minta duit, bukan cari berita,” ungkap Ari.

Ia menuturkan sebelum era 1998, wartawan bodrek dengan wartawan asli, serta oknum wartawan asli berperilaku bodrek mudah dipisahkan. Namun di era sekarang, diakui lebih sulit membedakan karena mereka mencoba berbaur dengan wartawan asli yang memiliki media, serta membawa kartu pers.

“Wartawan bodrek berusaha membaur dengan kelompok masyarakat yang melakukan aktivitas jurnalistik, seperti citizen journalist, blogger, fotografer hobi, dan lainnya. Namun ujungnya tetap sama yakni meminta duit,” katanya.

Ari meminta narasumber bersikap tegas hingga siap menempuh jalur hukum jika diperas wartawan abal-abal atau oknum wartawan tertentu.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
Taman Pelangi Jurug, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…