Pohon Angsana yang ada di situs Punden Lambung Kuning Madiun membuat kawasan itu rimbun. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Senin, 4 April 2016 17:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

SITUS BERSEJARAH MADIUN
Inilah Mitos 7 Pohon Angsana di Punden Lambung Kuning

Situs bersejarah di Punden Lambung Kuning Madiun menyimpan berbagai mitos, salah satunya di tujuh pohon angsana yang ada di situs itu.

Solopos.com, MADIUN — Situs bersejarah Punden Lambung Kuning yang terletak di Desa Nglambangan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, menyimpan berbagai mitos. Salah satu hal yang dikeramatkan di tempat itu adalah tujuh pohon angsana yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun.

Menurut juru kunci Punden Lambang Kuning Madiun, Samiono, 43, tujuh pohon angsana telah ada di Punden Lambung Kuning sejak ratusan tahun lalu.

Dari tujuh pohon tersebut enam pohon angsana memiliki ukuran yang besar yaitu dengan diameter sekitar satu meter dan tinggi puluhan meter dengan daun yang sangat lebat sekali. Sedangkan satu pohon lainnya berukuran kecil yaitu batangnya berdiameter sekitar 50 cm.

Untuk satu pohon dengan ukuran lebih kecil dibandingkan enam pohon lain itu berada tepat di tempat makam Nyi Lambang Kuning yang merupakan sesepuh di situs itu. Usia pohon tersebut juga diperkirakan ratusan tahun.

Samiono menyampaikan pohon ngsana itu sejak dahulu tidak pernah ditebang maupun dirapikan, meskipun ranting dan dahan pohon dianggap membahayakan warga. Ini karena tidak ada orang yang berani merapikan sampai menebang pohon di situs bersejarah itu.

Dia menceritakan beberapa waktu yang lalu dahan salah satu pohon di situs Punden Lambung Kuning roboh tertiup angin. Selanjutnya, ada warga di Desa Nglambangan yang memanfaatkan dahan itu untuk kebutuhan memasak.

Tanpa disangka-sangka, orang yang memanfaatkan dahan itu untuk kebutuhan pribadi itu dikejar-kejar anjing galak. Padahal di Desa Nglambangan tidak ada warga memelihara anjing.

“Sejak saat itu warga tidak berani menggunakan dahan pohon di situs Punden Lambung Kuning untuk keperluan pribadi. Ketika ada dahan pohon yang roboh, biasanya saya bakar bersama daun pohon yang berguguran,” kata dia saat berbincang dengan Madiunpos.com, Selasa (15/3/2016).

Dia menceritakan pada beberapa tahun silam juga pernah ada cerita mengenai orang yang akan menebang salah satu pohon tersebut. Saat orang itu mulai menebang dahan pohon dengan memanjat pohon, orang tersebut tiba-tiba jatuh dan akhirnya meninggal dunia.

Samiono sendiri pernah mengalami hal mistis saat membersihkan atap pendapa yang ada di kawasan situs Punden Lambang Kuning dari daun pohon angsana yang berguguran. Kemudian tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba dahan dengan ukuran besar dari salah satu pohon roboh melintang di atas atap pendapa. Beruntung dahan pohon itu tidak mengenai dirinya.

“Sampai saat ini saya tidak berani membersihkan di tempat-tempat yang letaknya di atas. Yang penting di sekitar situs bersih dari sampah. Ini bisa dikatakan hal mistis yang dimiliki pohon di situs Punden Lambang Kuning,” jelas dia.

lowongan pekerjaan
Netra-Group, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…