Shuttle Wisata (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)
Senin, 4 April 2016 09:20 WIB Gilang Jiwana/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PARKIR DI JOGJA
Ini Cara Siasati Si Thole Sepi Penumpang

Parkir di Jogja, pekerja Thole digaji sesuai UMK

Solopos.com, JOGJA — Shuttle wisata njeron beteng Si Thole terbukti tidak hanya bertahan tetapi juga  mampu menghidupi 20 anggota yang sebelumnya berprofesi sebagai jukir di alun-alun utara.

Penanggung Jawab Kendaraan Wisata Si Thole, Hamam Arif Romas mengatakan mengakui ada masa  shuttle yang mereka kelola tak sempat jalan seharian karena minimnya penumpang, namun sejauh ini mereka masih bisa bertahan dengan menggunakan bermacam trik pemasaran.

“Tiket terusan itu cukup membantu karena wisatawan bisa naik dan turun di tempat yang diinginkan. Kami kerjasama juga dengan Asita (Asosiasi agen travel Indonesia) untuk fasilitas tur, jadi penumpang yang datang bisa langsung disambut Si Thole,” beber dia.

Konsep serupa menurut Hamam mestinya bisa diterapkan juga di gedung parkir Abu Bakar Ali. Jukir yang tak kebagian lokasi bisa difasilitasi untuk mengembangkan shuttle untuk sepanjang Malioboro dan Mataram. Dengan begitu para jukir bisa tetap mendapatkan kesejahteraan dan pengunjung yang parkir mendapatkan fasilitas untuk menghemat tenaga menelusuri Malioboro.

Terkait dukungan dari pemerintah, Hamam menilai Pemerintah Daerah dan Pemerintah Kota, masih memberikan dukungan berupa program wisata. Program-program wisata semacam itu menurut Hamam cukup membantu meningkatkan keterisian armada shuttle yang mereka kelola.

Meskipun demikian dia merasa masih belum ada konsistensi dari Pemda dan Pemkot dalam menjalankan kebijakan penataan parkir. Hal itu menurutnya menjadi ganjalan dalam melangsungkan bisnis shuttle wisata ini.

Dia menyarankan untuk konsisten dalam menata perparkiran terutama di wilayah Malioboro dan Kraton. Sejauh ini meskipun parkir Ngabean sudah beroperasi penuh bus wisata berukuran besar lebih memilih area parkir Senopati. Ngabean pun dianggapnya masih menjadi area parkir buangan bila Senopati sudah tak lagi memadai.

“Seharusnya ada zonasi untuk parkir, elf atau bus medium bisa ke Senopati, tapi bus besar ke Ngabean, dengan begitu parkir dan kemacetan teratasi dan investasi Pemkot ke Si Thole juga tidak sia-sia,” imbuh Hamam.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…