Ilustrasi Hansip atau Linmas. (Facebook-Bima Primaga Yudha) Ilustrasi Hansip atau Linmas. (Facebook-Bima Primaga Yudha)
Senin, 4 April 2016 14:40 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

KESEJAHTERAAN LINMAS
Anggota Linmas Sangkrah Rela Potong Gaji Beli Seragam

Kesejahteraan Linmas, anggota linmas Kelurahan Sangkrah Pasar Kliwon memilih memotong gaji demi memperoleh seragam baru.

Solopos.com, SOLO–Petugas perlindungan masyarakat (linmas) Kelurahan Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo rela potong gaji demi membuat seragam baru.

Salah satu personel linmas Sangkrah, Kartiman, 52, mengatakan setiap personel linmas Sangkrah yang mendapat jatah piket harian mesti mengeluarkan uang Rp50.000 untuk memenuhi kebutuhan dalam pembuatan seragam baru. Menurut dia, uang tersebut diambil dari upah mereka selama dua bulan, Maret dan April.

“Karena uang kas kurang, kami harus mengeluarkan uang pribadi untuk membayar ongkos jahit seragam baru. Namun, tidak semua linmas bisa atau bersedia menyediakan uang Rp50.000 secara langsung. Kondisi itu membuat kami sepakat untuk dipotong gaji,” kata Kartiman kepada Solopos.com, Senin (4/4/2016).

Kartiman tidak mempersoalkan penggunaan uang pribadi dalam pembuatan segaram baru. Dia mengatakan seragam baru memang dibutuhkan personel linmas Sangkrah karena seragam lama sudah lusuh. Kartiman mengatakan seragam lama sudah kurang layak untuk dipakai personel linmas Sangkrah dalam bertugas.

“Sebenarnya kami ingin seragam baru disediakan oleh pemerintah, tanpa harus urunan. Keberadaan seragam baru bisa menjadi penyemangat kami dalam menjalankan tugas. Sebagian besar personel linmas Sangkrah kini sudah mengenakan seragam baru,” papar Kartiman.

Senada dengan Kartiman, personel linmas Sangkrah lainnya, Suharno, 49, mengatakan personel linmas Sangkrah memang sudah saatnya mengenakan seragam baru. Dia tidak mempersoalkan keluar uang pribadi untuk mencukup biaya pembuatan seragam baru. Berdasarkan informasi yang dia peroleh, Suharno menyebut, uang Rp50.000 untuk pembuatan seragan baru akan diganti dengan uang kas.

“Kalau boleh memilih, siapa saja tentu ingin seragam baru disediakan tanpa harus ada urunan. Karena uang [kas] tidak cukup], kami terpaksa ikut keluar uang yang diambil dari upah bulanan. Bagi kami uang Rp50.000 tentu terhitung besar. Namun, tidak begitu masalah, seragam baru juga untuk kami sendiri,” kata Suharno.

Saat dimintai konfirmasi, Komandan Peleton (Danton) Linmas Sangkrah, Widodo, 47, membenarkan personel linmas Sangkrah harus potong upah untuk membuat seragam baru. Dia menerangkan, uang kas linmas Sangkrah yang berasal dari Dana Pembangunan Kelurahan (DPK) dan iuran bulanan anggota tidak mencukupi untuk membayar pembuatan seragam baru linmas.

“DPK aslinya enggak boleh untuk pembuatan seragam. Namun bagaimana lagi. Seragam personel sudah lusuh. Ongkos pembuatan seragam susah kalau harus dibebankan kepada semua personel. Satu seragam menghabiskan uang Rp105.000. Rencananya uang Rp50.000 dari setiap personel akan dikembalikan setelah uang kas kembali terkumpul,” papar Widodo.

Widodo mengungkapkan personel linmas di Solo pernah mendapat seragam gratis dari Departemen Dalam Negeri saat pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Bantuan tersebut belum terjadi di Pemerintahan Presiden Jokowi.

LOWONGAN PEKERJAAN
WEDHANGAN GULO KLOPO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…