Perwakilan chef yang tergabung dalam Indonesian Chef Association (ICA) Soloraya menjual makanan tradisional khas Solo seperti nasi liwet, pecel ndeso, sate kere, dan cabuk rambak seharga Rp2.500/porsi di arena car free day Jl. Slamet Riyadi Gladag, Minggu (3/4/2016) pagi. Penjualan makanan tradisional tersebut sebagai praacara Solo Indonesia Culinary Festival 2016. (Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos)
Senin, 4 April 2016 11:25 WIB Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos Solo Share :

FESTIVAL KULINER SOLO
Saat Chef Hotel Berbintang Sajikan Masakan Tradisional

Festival kuliner Solo bertajuk Indonesia Culinary Festival 2016 akan segera digelar.

Solopos.com, SOLO – Tiga meja stainless steel dapur restoran diboyong ke arena car free day Jl. Slamet Riyadi Gladak, Minggu (3/4/2016) pagi. Saat jarum jam menunjuk angka pukul 07.00 WIB, belasan chef yang tergabung dalam Indonesian Chef Association (ICA) Soloraya telah bersiap di belakang meja.

Makanan tradisional khas Solo di antaranya nasi liwet, pecel ndeso, cabuk rambak, dan sate kere, ditata berjajar di atas meja antikarat tersebut.

Begitu penjualan makanan yang dibanderol Rp5.000/untuk dua porsi makanan itu resmi dibuka, antrean warga langsung mengular. Dengan cekatan para chef yang biasanya memasak dengan peralatan dapur serba canggih di hotel berbintang atau restoran ternama, meracik makanan tradisional yang biasa dijajakan pedagang kaki lima.

Di balik seragam dan topi koki yang mereka miliki, para chef yang bertugas di belakang meja dapur terlihat piawai memotong lontong, menyuwir ayam, hingga menyusun potongan kupat di pincuk kemudian menutulinya dengan sambal wijen. Semua kegiatan meracik tersebut dilakukan para chef dengan sarung tangan plastik untuk menjaga bahan makanan tetap higienis.

Selang 30 menit kemudian, dari ujung meja salah satu chef yang bertugas mengamankan barisan berteriak, “Sisa berapa porsi?” tanyanya kepada rekannya yang bertugas di balik meja. “Tinggal 10 porsi nasi liwet,” sahut Chef Suwanto.

Suwanto yang bertugas di seksi nasi liwet sempat gamang melihat antrean pengunjung masih menyisakan belasan orang. Sedangkan stok nasi gurih sebagai bahan pendukung nasi liwet telah habis. Padahal waktu itu, sayur sambel goreng labu siam masih cukup untuk sisa pengunjung.

Ia pun spontan menyiapkan menu baru bernama lontong liwet dari sisa lontong teman makan sate kere yang juga telah tandas. Menu dadakan yang dimaksud terdiri atas potongan lontong yang ditata di takir, kemudian disiram sayur sambal goreng labu siam, dan diberi topping suwiran ayam, potongan telur pindang, dan dibubuhi areh gurih dari santan kelapa.

“Nasi sudah habis, tapi sayur masih banyak. Sayang. Spontan saya bikin lontong liwet saja biar rasanya tetap original,” tutur chef yang sehari-hari bertugas di Ibis Style Hotel Solo ini.

Salah seorang pengunjung CFD yang kebagian lontong liwet, Dasriyati, 48, menyebutkan rasa makanan oplosan spontan chef hotel berbintang tersebut cukup enak. “Enak juga rasanya. Apalagi ditambah karak cabuk rambak. Harganya juga terjangkau. Rp5.000 dapat dua porsi,” tuturnya.

Ketua Penyelenggara Solo Indonesia Culinary Festival 2016, Daryono, mengatakan kegiatan menjual makanan tradisional Kota Solo racikan chef tersebut merupakan preevent Solo Indonesia Culinary Festival 2016. “Ide acaranya spontan semalam. Kami ingin menyajikan makanan lokal Solo yang biasa dijajakan di CFD. Hanya saja kali ini yang meracik bukan ibu-ibu, tapi chef dari hotel berbintang,” jelasnya.

Daryono menyebutkan presentasi makanan tradisional di acara pre-event kegiatannya sesuai dengan tema yang diusung Solo Indonesia Culinary Festival tahun ini.

“1.000 lebih porsi makanan yang dijajakan di sini semuanya makanan rakyat. Warisan leluhur. Sesuai tema acara kami culinary heritage,” katanya.

Acara pre-event Solo Indonesia Culinary Festival 2016 yang menyajikan 400 porsi nasi liwet, 200 porsi sate kere, 200 porsi pecel ndeso, dan 300 porso cabuk rambak ludes dijajakan dalam waktu 40 menit. Acara Solo Indonesia Culinary Festival 2016 akan resmi dibuka di Benteng Vastenburg, Jumat (8/4/2016) malam.

 

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Solusi Kemanusiaan untuk Jerusalem

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/12/2017). Esai ini karya Mudhofir Abdullah, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah mudhofir1527@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Pernyataan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel yang…