Ilustrasi embung (JIBI/Harian Jogja/Dok) Ilustrasi embung (JIBI/Harian Jogja/Dok)
Senin, 4 April 2016 12:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

EMBUNG KEMIRI Bocor, Irigasi Sawah di Purwobinangun Tersendat

Embung Kemiri, Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman belum memberi dampak positif untuk warga di sekitarnya

Solopos.com, SLEMAN – Pembangunan embung menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat sekitar jika salah perhitungan dan tak sesuai dengan detail engineering design (DED).

Fakta itu dirasakan warga yang tinggal di sekitar Embung Kemiri, Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman. Sejak dibangun tahun 2006, embung ini justru tak bisa dimanfaatkan warga dan memperburuk kualitas irigasi dan mata air sekitar embung.

Kepala Dusun Kemiri Desa Purwobinangun Pakem Sleman Parjiono mengakui adanya dampak buruk Embung Kemiri bagi warga sekitar. Ia menjelaskan, embung itu dibangun pada 2006 di atas tanah kas desa seluas area sekitar dua hektar.

Saat warga dari beberapa dusun yang tinggal di sekitarnya menaruh harapan besar terhadap embung tersebut. Selain sebagai tampungan air bersih, konservasi dan irigasi, embung itu juga direncanakan sebagai tempat wisata.

Tetapi sayangnya, harapan itu kandas, saat beberapa bulan setelah dibangun embung justru mengalami kebocoran bagian pondasi. Warga sempat memanfaatkan untuk mandi dan lain-lain namun tak berlangsung lama.

“Sempat dipakai beberapa bulan, lalu bocor dan itu menjadi masalah awal hingga mangkrak,” terangnya, Minggu (3/4/2016).

Embung dibangun dengan anggaran dari Pemerintah Pusat melalui Kementrian Pekerjaan Umum, dengan dana dikabarkan sebesar Rp2,7 miliar. Maket rencana pembangunannya pun saat 2006 itu ditempatkan di Balai Desa Purwobinangun, Pakem.

Menurut Parjiono kebocoran itu diduga bangunan tidak sesuai dengan spesifikasinya sehingga cepat ambrol. Setelah itu, air cepat habis dan tidak terserap dengan baik.

Lambat laut, karena kerap kering embung semakin tidak terjamah oleh warga hingga saat ini di dalamnya dipenuhi lumut dan air kotor bahkan rerumputan yang ada di tengahnya.

Ia mengatakan, hingga saat ini embung itu justru memberikan efek negatif bagi warga tiga dusun yaitu Kratuan, Kemiri dan Ngelosari. Pasalnya karena embung yang cenderung berada di kedalaman relatif dalam membuat mata air banyak yang terserap ke embung dan air irigasi kian menipis.

Embung itu mengambil air dari Sungai Kemiri yang sebelumnya untuk irigasi. Sementara pondasi embung bocor sehingga air dengan mudah hilang ke dalam tanah dan tidak sampai ke saluran irigasi.

“Sekarang tiga dusun itu kesulitan untuk irigasi karena airnya lari ke sana [embung] lalu hilang karena bocor,” imbuhnya.

Laporan terkait kerusakan embung pun berkali-kali diberikan kepada pihak terkait seperti Pemkab Sleman namun belum ada respon sehingga embung tetap mangkrak bertahun-tahun.

Sebagai warga setempat Parjiyono ada solusi dari pihak berwenang terkait kondisi embung. Sehingga warga tidak terkena dampak buruk dan memanfaatkan embung tersebut. “Sebenarnya kalau diperbaiki agar tidak bocor saja itu sudah lumayan,” harapnya.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…