Anggota kepolisian bersenjata berjaga di depan Ruang Forensik setelah ambulans membawa dua jenazah terduga teroris yang ditembak mati di Rumah Sakit Bhayangkara Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (15/3/2016) lalu. Keduanya diduga anggota komplotan Santoso dan tewas tertembak mati setelah kontak senjata dengan aparat gabungan TNI-Polri di Pegunungan Talabosa, Lore Utara, Poso. (JIBI/Solopos/Antara/Basri Marzuki)
Senin, 4 April 2016 15:40 WIB JIBI/Solopos/Newswire Peristiwa Share :

DUGAAN KASUS TERORISME
BNPT: Kelompok Santoso Makin Melemah

Dugaan kasus terorisme, BNPT menyebut kelompok Santoso makin melemah akibat kehilangan banyak anggota.

Solopos.com, JAKARTA–Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Tito Karnavian mengatakan bahwa saat ini kelompok Santoso telah melemah akibat kehilangan banyak anggotanya dan kecilnya ruang gerak mereka.

“Di dua bulan terakhir ini, lebih dari 10 orang yang sudah tertangkap, baik dalam kondisi hidup dan meninggal saat kontak tembak,” ujar Tito saat ditemui dalam kegiatan pelantikan pejabat Kemenpan-RB di Jakarta seperti dilansir Antara, Senin (4/4/2016).

Berdasarkan informasi yang dia berikan, saat ini diketahui jumlah kelompok Santoso yang masih bertahan dan melarikan diri di hutan hanya sekitar 29 orang yang semula berjumlah 41 orang.

Sedangkan untuk orang asing dari etnis Uyghur yang semula berjumlah enam orang, saat ini tersisa dua orang akibat empat orang di antaranya turut menjadi korban tewas saat terjadi kontak tembak.

“Nah, 29 orang ini pun juga terpecah karena ada kontak tembak kemarin. Tapi mereka masih di sekitar wilayah Poso dan Napu,” tukas mantan Kapolda Metro Jaya itu.

Menurut dia, kekuatan 3.000 personel gabungan TNI dan Polri yang saat ini diterjunkan untuk memburu kelompok tersebut sudah cukup memadai dan sekarang masih melakukan operasi pembersihan di wilayah tersebut.

Akan tetapi kendala terberat dari pelaksanaan operasi tersebut justru dari aspek medan yang sangat berat karena berupa pegunungan yang diisi hutan yang sangat lebat dan sulit ditembus.

Dia mengatakan masalah tersebut ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami karena kondisi medan alam yang cukup berat.

“Saya baru pagi ini kembali dari sana. Setelah berdiskusi dengan para komandan di lapangan, saya kira ini tinggal menunggu waktu saja karena posisi mereka sudah terdesak, logistik mau habis, senjatanya juga kurang lebih tinggal enam saja,” ujar Tito.

Dia menuturkan operasi pengejaran tersebut akan berlangsung hingga bulan Mei 2016. Namun dia belum bisa memastikan kapan Santoso dan anggotanya bisa tertangkap.

“Usaha manusia kan hanya 20 sampai 30 persen, sisanya hanya Tuhan yang tahu. Kita berdoa semoga ini cepat selesai, supaya ancaman kekerasan yang ada di situ tidak terjadi lagi,” tutur Tito.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…