Paino, warga dusun Dusun Jetis, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, menunjukkan kelapa kosong yang telah dipahat dan diukir hingga menyerupai wajah manusia. Foto diambil pada 11 Februari 2016 lalu.(Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 2 April 2016 06:40 WIB Rima Sekarani/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

Kreasi Kelapa Kosong Jadi Penghias Rumah Ala Warda Jetis Samigaluh

Namun, kelapa kosong tidak selamanya dibuang begitu saja. Sejumlah warga di Dusun Jetis, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, membuat benda tersebut hingga layak dijadikan penghias rumah.

Solopos.com, SAMIGALUH-Barangkali bagi masyarakat umum, kelapa kosong yang tidak memiliki daging buah dan air adalah barang tidak berharga. Namun, kelapa kosong tidak selamanya dibuang begitu saja. Sejumlah warga di Dusun Jetis, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, membuat benda tersebut hingga layak dijadikan penghias rumah.

Perbukitan menoreh di Kulonprogo bukan hanya memiliki potensi keindahan alam yang memikat wisatawan. Beberapa perajin karya seni juga berkembang di sana. Salah satunya Joko Kuncoro, warga Dusun Jetis yang lebih dikenal dengan panggilan Japrak. Berbekal ilmu seni kriya, Japrak sudah 12 tahun terakhir ini menjadi perajin biola dan beberapa jenis alat musik petik lain. Biola karyanya bahkan sudah punya konsumen asal mancanegara.

Di sela kesibukan produksi biola, Japrak terkadang berkreasi dengan kelapa kosong. Buah kelapa kosong yang telah mengering dipahat dan diukir hingga terbentuk menyerupai wajah manusia. Dia mengatakan, kelapa kosong dipercaya memiliki kekuatan tertentu yang mampu menangkal angin kencang. “Ada kalangan yang yakin bahwa kelapa kosong itu ada energinya jika dideteksi secara khusus,” ungkap Japrak, kepada Harian Jogja, Februari lalu.

Japrak memaparkan, kelapa kosong sebenarnya cukup dipasang begitu saja di depan rumah. Manfaatnya pun sudah bisa dirasakan meski tidak dibentuk sedemikian rupa. Namun, Japrak pun paham jika hal itu berpotensi mengundang kontroversi. “Bisa dibilang sirik. Jadi kita bikin hiasan saja untuk menengahi. Fungsi menolak angin besar dan berbahayanya tetap dapat, nilai seninya juga ada,” ujar dia.

Pembeli hiasan kelapa kosong, lanjut Japrak, biasanya berasal dari kalangan orang kejawen. Selain dipajang di rumah pribadi, benda itu juga dijadikan pendukung ritual tertentu, khususnya yang berkaitan dengan cuaca.

Rekan Japrak, Paino menambahkan, kelapa kosong memang sulit didapat. Biasanya mereka hanya menunggu pemberian dari petani kelapa yang menemukannya saat panen. “Semua yang gabuk itu bisa dipakai. Biasanya ada yang habis panen lalu dikasihkan ke kami kalau kosong,” kata Paino.

lowongan pekerjaan
Harian Umum SOLOPOS Account Executive, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama-Sama Mengawasi APBD

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (8/12/2017). Esai ini karya Doddy Salman, mahasiswa S3 Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah doddy90@yahoo.com Solopos.com, SOLO–DPRD DKI Jakarta mengesahkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran…