Situasi Waduk Pacal di Bojonegoro. (JIBI/Solopos/Antara/Slamet Agus Sudarmojo) Situasi Waduk Pacal di Bojonegoro. (JIBI/Solopos/Antara/Slamet Agus Sudarmojo)
Sabtu, 2 April 2016 03:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

IRIGASI BOJONEGORO
Cegah Kerusakan Saluran, Air Waduk Pacal Dikeluarkan 2,5 M3/detik

Irigasi Bojonegoro yang dipasok dari Waduk Pacal dikeluarkan sebanyak 2,5 m3/detik.

Solopos.com, BOJONEGORO – Bangunan pelimpas di Waduk Pacal Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur masih rusak akibat diterjang banjir bandang beberapa tahun lalu. Untuk mencegah kerusakan lebih parah, air Waduk Pacal dikeluarkan sebesar 2,5 meter kubik per detik melalui saluran pelimpas.

Kasi Operasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Mucharom, mengatakan air Waduk Pacal dikeluarkan melalui saluran pelimpas sebesar 2,5 meter kubik per detik, sejak Senin (28/3/2016).

“Kalau air tidak dibuang melalui saluran pelimpas bisa membahayakan bangunan pelimpas yang rusak, tapi perbaikannya belum permanen,” jelas dia, Jumat (1/4/2016).

Kasi Pengelolaan Pemanfaatan Sumber Air Dinas Pengairan Bojonegoro Dody Sigit Wijaya, menambahkan air Waduk Pacal dikeluarkan karena ketinggian air pada papan duga mencapai 114,80 meter, dengan kapasitas 22,060 juta meter kubik. “Pintu pengeluaran Waduk Pacal tetap tertutup. Air hanya dikeluarkan melalui saluran pelimpas,” ucap dia.

Sesuai perhitungan teknis, ketinggian air pada papan duga di Waduk Pacal harus dipertahankan 113,40 meter, agar debit air di waduk tidak merusak bangunan pelimpas yang perbaikannya belum permanen.

Meski air Waduk Pacal dikeluarkan, menurut dia, ketinggian air pada papan duga di Waduk Pacal meningkat, karena memperoleh pasokan air hujan.

Ia menyebutkan ketinggian air Waduk Pacal yang semula hanya 114,80 meter, meningkat menjadi 115 meter dengan debit mencapai 23,346 juta meter, per 1 April 2016. “Air Waduk Pacal bertambah, karena masih memperoleh pasokan air hujan,” beber Dody.

Ia optimistis Waduk Pacal akan memperoleh pasokan air hujan secara maksimal, selama musim hujan, sehingga musim tanam (MT) I dan II tahun ini, bisa aman memperoleh air.

Dody menambahkan air Waduk pacal yang dibuang melalui saluran pelimpas tidak terbuang percuma, karena tetap masuk saluran utama, sehingga bisa dimanfaatkan petani di daerah irigasinya yang menanam padi.

“Air buangan yang masuk saluran utama itu, kemudian dimanfaatkan petani di sejumlah desa di Kecamatan Kanor dan Baureno, untuk mengairi areal tanaman padinya yang masih berusia sekitar 50 hari,” jelas dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
PT. SEMBADA AGUNG PRATAMA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…