Kepala Badan Nasional Penanggulangan, Tito Karnavian memberi keterangan kepada para wartawan ddi Hotel Lorin, Colomadu, Karanganyar, Kamis (31/3/2016). (Iskandar/JIBI/Solopos)
Jumat, 1 April 2016 15:25 WIB Iskandar/JIBI/Koran Solo  Karanganyar Share :

PENANGGULANGAN TERORISME
Tito Lebih Suka Cegah Ideologi Radikal

Penanggulangan terorisme bisa dilakukan dengan pencegahan paham ideologi radikal.

Solopos.com, KARANGANYAR – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorsime (BNPT) Irjen Pol. Tito Karnavian mengatakan penanganan terorisme lebih diutamakan bukan pada penangkapan atau penahanan. Dalam hal ini pihaknya mengaku lebih mengutamakan bagaimana mencegah agar ideologi radikal yang menggunakan kekerasan tidak berkembang di Indonesia.

“Karena hal itu akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa sekalighus akan menjadi kasus kejahatan atau kriminal. Sebab mereka melakukan pembunuhan, perusakan, dan sebagainya. Ini tidak sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan nilai-nilai islami,” ujar dia ketika dicegat wartawan di Hotel Lorin, Colomadu, Karanganyar, Jateng, Kamis (31/3/2016).

Pada Kamis kemarin Tito menghadiri Dialog Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Kalangan Imam Masjid dan Dai Muda se-Jateng. Selain Tito hadir pada acara itu antara lain Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Ahmad Hasyim Muzadi, Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol. Hamidin, Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub, Deputi I BNPT Mayjen TNI Abdul Rahman Kadir, Anggota Komisi III DPR M. Toha, Danrem 074/Warastratama Kol. (Inf.) Maruli Simanjuntak, Wakil Walikota Solo Achmad Purnomo dan sebagainya.

Terkait itu, Tito berharap dengan adanya dai-dai dan imam-imam masjid atau mereka yang sehari-hari pada garis depan berhadapan dengan masyarakat diharapkan membantu, terpanggil, mempunyai satu visi. Mereka diharapkan mampu menangkal berkembangnya ideologi radikal ini.

Berdasar catatan Tito daerah yang dinilai dapat menjadi perkembangbiakan kelompok radikal seperti terorisme di Indonesia ada beberapa daerah. Di antaranya selain Jateng ada Jabar, Jatim, Jogjakarta, NTB, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Lampung dan sebagainya.

Sementara itu Ketua Umum IPIM Prof.Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub dalam dialog mengatakan kegiatan ini sangat diperlukan agar semangat menjaga keutuhan NKRI dapat terjaga dan jauh dari aksi teror yang berkembang seperti saat ini.

Sedangkan Ketua Panitia Pengelenggara dialog dari BNPT, Dadang Hendrayudha mengatakan pihaknya terus bergerak melakukan sosialisasi dan dialog dengan berbagai lapisan masyarakat termasuk IPIM dan dai se-Jateng tersebut dalam rangka membendung penyebaran paham radikal terorisme di Indonesia.

Dengan menggandeng IPIM dan dai tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengetahuan agama Islam yang sangat penting untuk mencegah masuknya paham radikal terorisme dan ISIS.

Menurut dia, imam masjid dapat berinteraksi dengan jamaah sekurangnya lima kali dalam sehari. Kondisi ini dinilai bisa memberikan pencerahan kepada umatnya sehingga harus dibekali pengetahuan yang update tentang paham-paham yang bersifat kekerasan yang dilakukan oleh kelompok teroris ISIS.

“Fungsi lain imam masjid akan menyampaikan Islam yang ramah dan bukan kekerasan sehingga wajah akan selalu baik dan jauh dari sifat radikalisme, anarkis dan jaringan terorisme,” papar dia.

Pada bagian lain acara yang digelar di Lorin kemarin sedikit terusik. Karena ada segelintir pemuda nekat hendak memasang spanduk kecaman terhadap keberadaan Densus 88 Antiteror dan karenanya minta dibubarkan.

Namun upaya memasang spanduk gagal, karena mereka dihalau petugas. “Karena belum jadi memasang ya sudah, mereka kami awasi dan terus pergi,” kata Kapolsek Colomadu, AKP. Joko Waluyono.

 

lowongan peekrjaan
PT. Integra Karya Sentosa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…