Anggota DPRD Kota Jogja Antonisu Fokki Ardianto, Ketua Paguyuban Jukir Malioboro Sigit Karsana Putra, dan Ketua FKPPY Endro Sulaksono, bersama puluhan jukir saat unjukrasa minta relokasi diundur, Kamis (31/3/2016). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja) Anggota DPRD Kota Jogja Antonisu Fokki Ardianto, Ketua Paguyuban Jukir Malioboro Sigit Karsana Putra, dan Ketua FKPPY Endro Sulaksono, bersama puluhan jukir saat unjukrasa minta relokasi diundur, Kamis (31/3/2016). (Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 1 April 2016 10:55 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PARKIR MALIOBORO
Protes Relokasi, Juru Parkir Ancam Duduki Malioboro

Parkir Malioboro masih menjadi persoalan terkait relokasi ke gedung parkir di Jalan Abu Bakar Ali

Solopos.com, JOGJA-Sebagian juru parkir yang belum sepakat direlokasi mengancam akan menduduki Jalan Malioboro pada 4 April mendatang. Aksi tersebut sebagai bentuk protes rencana relokasi parkir kendaraan roda dua di sisi timur Malioboro ke Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA).

Ancaman tersebut disampaikan juru parkir saat berunjukrasa di Balai Kota Jogja, Kamis (31/3/2016). “Tanggal 4 April besok kita duduki Malioboro, apapun yang terjadi kita hadapi,” kata Ketua Paguyuban Juru Parkir Malioboro, Sigit Karsana Putra.

Setelah menduduki halaman Balai Kota, sekitar setengah jam, sekitar 80an juru parkir membubarkan diri karena tidak ada yang menemui dari pika Pemerintah Kota Jogja. Sehari sebelumnya, mereka mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota (DPRD) Kota Jogja.

Dalam audiensi Rabu (30/3/2016) juru parkir ditemui sejumlah anggota dewan dan perwakilan dari Pemerintah Kota Jogja, di antaranya Asisten Perekonomian dan Pembangunan Aman Yuriadijaya, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro Syarif Teguh Prabowo, dan Kepala Dinas Ketertiban Nurwidi Hartana.

Namun para jukir belum menerima penjelasan Pemerintah Kota Jogja. Mereka berkukuh minta relokasi ditunda minimal sampai setelah lebaran Idul Fitri nanti. Mereka juga minta jaminan pascarelokasi masih memperoleh pendapatan yang bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Sigit menilai kompensasi sosial Rp50.000 tidak cukup untuk menghidupi keluarga jukir ditambah biaya sekolah anak-anak. Karena saat parkir di Malioboro jukir bisa memperoleh pendapatan lebih dari itu.

Sigit mengaku mendukung adanya penataan di Malioboro demi kenyamanan bersama. Namun, dia juga minta jaminan dari dampak yang akan dialami jukir pascarelokasi. Dia berharap ada jaminan beasiswa bagi anak-anak dari juru parkir. “Sebelum ada jaminan pendidikan jangan relokasi dulu,” ujar Sigit.

lowongan pekerjaan
CV MITRA RAJASA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Intelek Banal Kampus Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/12/2107). Esai ini karya Adi Putra Surya Wardhana, alumnus Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah adiputra.48697@gmail.com. Solopos.com, SOLO¬†— Beberapa waktu lalu beberapa kawan yang menempuh…