llustrasi kawasan Simpang Lima Kota Semarang. (JIBI/Solopos.com/Antara) llustrasi kawasan Simpang Lima Kota Semarang. (JIBI/Solopos.com/Antara)
Jumat, 1 April 2016 13:50 WIB Insetyonoto/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

KULINER SEMARANG
Mahalnya Sop Kaki Kambing PKL Simpang Lima Jadi Gunjingan Netizen

Kuliner Semarang sop kaki kambing yang dijual dengan harga kelewat mahal oleh PKL Simpang Lima Kota Semarang menjadi gunjingan netizen.

Solopos.com, SEMARANG – Mahalnya harga kuliner sop kaki kambing yang dijual pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Simpang Lima Kota Semarang menjadi gunjingan di media sosial, Facebook.

Awalnya, pengguna akun Facebook Nena Regal yang merasa terkejut saat harus membayar Rp104.000 untuk semangkok sop kaki kambing, dua piring nasi, satu gelas teh panas, satu gelas jeruk panas, dan dua kerupuk terung di sebuah warung PKL di kawasan Simpang Lima Kota Semarang berkeluh kesah di media jejaring Facebook.

“Malam teman-teman sekedar share saja nih semalam saya makan di sop kaki kambing dua s*****a kalau tidak salah [sebelahan sama pedagang pecel Yu Sri) di Simpang Lima. kebetulan saya pesan satu mangkok saja, dengan isian pilihan kaki yang ada tulangnya dua potong dan daging dua potong. Memang untuk rasa tidak mengecewakan. Selain itu pesan nasi dua, teh panas satu, jeruk panas satu dan kerupuk terung dua buah, semuanya ditebus dengan 104.00 k [Rp104.000]. Saya sempat melirik nota pembayaran dan ternyata satu mangkok sop kaki kambing dihargai 86k [Rp86.000] yang saya mau tanyakan apakah standar sop kaki kambing segitu? Maaf sebelumnya, sebenarnya pamali ya dengan apa yang sudah kita makan di hitung-hitung. Cuma penasaran saja hehe…mohon masukannya. Terimakasih,” tulis Nena Regal panjang lebar, Rabu (30/3/2016) pukul 21.49 WIB.

Postingan tulisan Nena Regal pun langsung memancing beragam tanggapan netizen. “Hehe jangan kaget mbak kalau jajan di Simpang Lima harga lebih mahal. Ya kayak jajan di Malioboro Jogja lah,” tulis pengguna akun Facebook Nabila.

“Berarti benar mukul ya mbak. Padahal saya asli Semarang mbak, ingin saja makan sop kaki kambing, ya setau saya cuma di situ saja soalnya hehe,” balas Nena Ragal

”Kalo mukul kayaknya tidak deh mbak, soalnya habis beli sop kakinya saya bungkus pecel dan tahu bacem cuma Rp8.000,” timpal pengguna akun Facebook Dini Ningtyas.

Bercermin dari pengalaman buruk Nena Regal dan netizen lain terkait wisata kuliner di seputaran Simpang Lima, pengguna akun Facebook Moh Immamul Muttaqin dan Dian Verayanti menyerukan perlunya bersikap lebih waspada.”Makan di sekitar Simpang Lima hati-hati. Harganya mukul semua,” tulis pengguna akun Facebook Moh Immamul Muttaqin memberikan peringatan kepada warga dunia maya, Internet.

”Terima kasih infonya bisa lebih selektif kalau makan di Simpang Lima, setidaknya tanya harga dulu,” tulis pengguna akun Facebook Dian Verayanti.

Bikin Kapok
Para netizen itu pada umumnya menyayangkan perilaku buruk pedagang kaki lima seputaran Simpang Lima Kota Semarang yang tak mempertimbangkan kenyamanan bagi wisatawan. Harga produk kuliner Sematang yang terlalu mahal mereka nilai membuat wisatawan kapok.

”Masak makan di warung kelas trotoar pinggir jalan sampai ratusan ribu, bagaimana pedagang bisa maju dan Semarang bisa didatangi wisatawan kalau penjualnya kayak begitu, kapok. Kalau di warung pecel Yu Sri memang tidak pernah memainkan harga, makanya di sepanjang trotoar itu yang paling ramai di warung pecel Yu Sri. Tolong pedagang lain jangan iri kalau tidak laku bersainglah yang sehat biar pelanggan tidak kapok,” tulis pemilik akun Facebook Agung Budiono.

”Huum, saya juga merasa begitu sampai saya coba daging udah saya irit ambilnya, eh tetap saja jatuhnya so expensive. Menurut saya harganya sangat tidak rasional banget, padahal saya sangat mengemari sop kaki kambing dari saya kuliah. Hiks sedih.aja kok menghargainya segitu mahalnya melebihi kita beli pizza di Piza Hut,” tulis pemilik akun Visca Mulyono.

”Pengalaman saya jajan di pinggir Simpang Lima tidak mahal-mahal amat kok. Beli yang sudah ada harganya saja mbak, jadi tidak keblondrok, kalau yang tidak ada harganya saya ragu membeli, takut mahal juga,” tulis akun Miftah Aja.

”Itulah lemahnya pengawasan pelayanan ke pelanggan, bagaimana wisatawan mau berkunjung ke Semarang kalau harga saja tidak rasional. Mohon pemerintah kota maupun provinsi bisa meninjau kepantasan harga kuliner di Semarang terutama di tempat-tempat wisata Kota Semarang. Selama ini saya yakin tidak pernah tersentuh, karena belum semua kedai mencantumkan daftar menu beserta harganya yang dipikir cuma untung besar saja hehehe. Semoga selalu tetap tawakal kepada Allah SWT,”  tulis akun Facebook Tris Yanto.

 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
PT BACH MULTI GLOBAL, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Ketika Uang Tunai Terpinggirkan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (16/10/2017). Esai ini karya Riwi Sumantyo, dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah riwi_s@yahoo.com. Solopos.com, SOLO — Perkembangan teknologi digital yang super cepat mengubah banyak hal, baik di…