Jogja
Senin, 28 Maret 2016 - 02:20 WIB

PRAKIRAAN CUACA : Cuaca Ekstrem di Lereng Merapi Diperkirakan Hingga Pertengahan April

Redaksi Solopos.com  /  Nina Atmasari  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Angin kencang (JIBI/Harian Jogja/Antara)

Prakiraan cuaca di Lereng Merapi diperkirakan terjadi cuaca ekstrem sampah pertengahan April

Harianjogja.com, SLEMAN- Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem hingga pertengahan April karena adanya pancaroba.

Advertisement

“Dampak musim pancaroba yang harus diwaspadai masyarakat adalah fenomena angin kencang yang diprediksi melanda sejumlah titik di Sleman,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Julisetiono Dwi Wasito, Sabtu (26/3/2016).

Menurut dia, masyarakat perlu untuk tetap waspada. Dari catatan BPBD Sleman angin kencang terjadi biasanya terjadi pada waktu siang dan sore hari.

“Angin kencang ini masih berpotensi terjadi hingga berakhirnya musim pancaroba nanti, masyarakat perlu untuk meningkatkan kewaspadaan,” katanya, seperti dikutip dari Antara.

Advertisement

Ia mengatakan, peristiwa angin kencang yang terjadi di Sleman terakhir kali tercatat pada 24 Maret 2016 yang melanda tiga titik yakni Kragilan, Binomarani, Kasalan, Beji, Sidoarum, Godean dan Jambon Kidul, Sindumartani, Ngempak.

“Dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa, hanya saja sebuah truk rusak akibat tertimpa pohon tumbang di Jambon Kidul,” katanya.

Sebelumnya pada 23 Maret 2016 tercatat angin kencang terjadi di tempat yang sama padukuhan yang sama Beji, Sidoarum, Goedean. Kawasan lain yang diterpa angin kencang terjadi di Sendangsari, Minggir.

Advertisement

“Tidak ada korban jiwa, angin kencang hanya menumbangkan pepohonan dan merusak sawah,” katanya.

Julisetiono mengatakan, menjelang akhir Maret, angin kencang mencapai sembilan kejadian. Rata-rata, angin kencang melanda kawasan Sleman Utara (lereng Gunung Merapi), Sleman Timur (Prambanan dan Kalasan) serta Sleman Barat (Minggir dan Moyudan).

“Sebagai antisipasi, bila terjadi mendung cukup tebal warga bisa menghindar dari pohon besar dan tiang yang rawan roboh,” katanya.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif