Seorang pengunjung bermain di dekat air terjun Dung Grujug di Dusun Pungkruk, Desa Doyong, Kecamatan Miri, Sragen, Minggu (6/3/2016). (M Khodid Duhri/JIBI/Solopos) Seorang pengunjung bermain di dekat air terjun Dung Grujug di Dusun Pungkruk, Desa Doyong, Kecamatan Miri, Sragen, Minggu (6/3/2016). (M Khodid Duhri/JIBI/Solopos)
Senin, 7 Maret 2016 08:30 WIB M Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Sragen Share :

WISATA SRAGEN
Surga Tersembunyi Miri Memikat Hati

Wisata Sragen tak ada habisnya untuk digali.

Solopos.com, SRAGEN — Wisata Sragen berupa air terjun yang satu ini belum banyak dikenali masyarakat. Suara derau air terdengar dari kejauhan saat Solopos.com menginjakkan kaki di Dusun Pungkruk, Desa Doyong, Kecamatan Miri, Sragen, Minggu (6/3/2016).

Setelah memarkir sepeda motor di halaman rumah warga setempat, Solopos.com menuruni jalan setapak nan licin dan berkelok-kelok menuju sumber suara derau air itu. Semakin jauh melangkah, semakin terdengar jelas suara derau itu. Setelah menuruni jalan setapak sepanjang sekitar 500 meter, tibalah kami di sebuah air terjun nan eksotis.

Air itu terjun dari ketinggian sekitar 5 meter. Nilai eksotisme air terjun ini terletak pada dinding batu karang yang menghiasai kanan dan kirinya. Batu karang itu membentuk motif garis-garis mendatar. Motif garis-garis itu terbentuk karena adanya gerusan air secara terus menerus selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Dung Grujug

Warga sekitar menyebut air terjun itu dengan istilah Dung Grujug. Air terjun ini berada di Kali Pungkruk yang tak lain terusan dari Sungai Kedung Kancil yang bermuara di Waduk Kedung Ombo. Berdasar pantauan selama hampir satu jam di lokasi, hanya terdapat segelintir warga yang mengunjungi air terjun ini. Namun, mereka lebih tertarik memancing ikan di lokasi.

“Di sini banyak ikannya.Ini saya baru saja mendapat dua ekor lele dan satu ekor sidat. Biasanya saya ke sini ya untuk memancing, bukan untuk melihat air terjun,” kata Sunardiyanto, 40, warga sekitar saat ditemui di lokasi.

Bagi warga sekitar seperti Sunardiyanto, tidak ada yang istimewa dari air terjun Dung Grujug. Ini karena warga sekitar sudah terbiasa melihat langsung air terjun itu. Warga sekitar belum menyadari adanya potensi wisata dari air terjun Dung Grujug.

”Pengunjung yang ingin melihat air terjun itu biasanya ya bukan warga sekitar. Tidak banyak pengunjung dari luar daerah yang datang. Paling hanya 1-2 orang. Setelah berfoto-foto, mereka langsung pergi,” jelas Sunardiyanto.

Hal senada disampaikan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang bertugas di Kantor Kecamatan Miri, Agus Dwi Cahyo. Dia mengakui air terjun Dung Grujug bisa dikembangkan menjadi objek wisata yang menguntungkan warga sekitar.

Meski demikian, warga sekitar belum menyadari adanya potensi wisata itu. ”Di mata warga sekitar yang sudah kerap melihat, keberadaan Dung Grujug itu tidak terlalu istimewa. Tapi, bagi para pendatang, Dung Grujug ibarat surga kecil di tempat terpencil,” terang Agus.

Air terjun Dung Grujuk berjarak sekitar 30 km dari Kota Sragen atau 25 km dari Kota Solo. Dung Grujuk bisa dikunjungi dengan menempuh jalan Solo-Grobogan. Sesampainya di simpang tiga Modro, pengunjung bisa mengambil jalur menuju Kantor Kecamatan Miri. Lokasi Dung Grujuk berjarak sekitar 1 km dari Kantor Kecamatan Miri.

lowongan pekerjaan
SUMBER BARU REJEKI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Visi Pedagogis Daoed Joesoef

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (27/01/2018). Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015) dan Pembaca Serakah (2017). Alamat e-mail penulis adalah fauzi_sukri@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Indonesia, khususnya dunia pendidikan, kehilangan sosok pemikir pedagogis tangguh yang…