Jumat, 5 Februari 2016 23:55 WIB Indah Septiyaning W/JIBI/Solopos Solo Share :

BANJIR SOLO
Alat Deteksi Dini Banjir Dirusak Tangan Jahil

Banjir Solo, BBWSBS dan Jasa Tirta berencana mengganti alat deteksi dini banjir.

Solopos.com, SOLO–Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) berkoordinasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT)  berencana mengganti alat early warning system (EWS) atau sirine deteksi banjir dari otomatis menjadi manual.

BBWSBS menduga kerusakan alat lantaran tangan jahil oknum tak bertanggung jawab yang terganggu dengan bunyi sirine. Kasi Perencanaan Operasional BBWSBS Antonius Suryono mengatakan pemasangan alat EWS bukan dikerjakan BBWSBS. Melainkan alat dipasang langsung oleh Perum Jasa Tirta.

Dua alat ini di pasang di Solo, yakni di pintu air Putat (perbatasan Pucangsawit dan Sewu), serta pintu air Demangan (perbatasan Sewu dan Sangkrah). Untuk alat di pintu air Putat, hanya lampu yang menyala dan sirine tak berbunyi. Sedangkan di pintu air Demangan, sirine hanya berbunyi dilampu kuning.

Ia menjelaskan cara kerja alat EWS disetel otomatis. Artinya alat tidak perlu dioperasional. Alat itu akan bekerja tatkala kondisi air naik dan menyentuh level hijau pada EWS.  “Jika menyentuh level hijau ini, lampu otomatis menyala dan sirine berbunyi sepanjang hari. Bunyi sirine akan berhenti jika debit air mulai turun,” kata dia kepada wartawan di Balai Kota, Jumat (5/2/2016).

Sebaliknya, bila air kembali naik dan menyentuh level kuning maka lampu akan menyala dan sirine kembali berbunyi. Sirine akan terus berbunyi bahkan hingga menyentuh level merah, yang artinya awas bencana banjir. Namun selama ini yang terjadi, lanjut dia, banyak tangan jahil merusak alat dengan beragam cara. Contoh kasus pada 2014 lalu. Alat EWS tak bisa berfungsi lantaran kabel pada alat tersebut diputus. “Alat kemudian kami perbaiki. Lalu kini alat rusak lagi. Kali ini rusak bukan karena kabelnya diputus, tapi sensornya dicabut,” kesal dia.

Atas kondisi ini, ia mengatakan alat EWS yang terpasang tidak berfungsi secara optimal. Ia mengatakan kerusakan alat deteksi bencana hampir ditemukan di berbagai daerah lainnya. Sama seperti alat EWS yang dipasang untuk mendeteksi bencana Tsunami maupun tanah longsor, kondisinya banyak yang rusak.

“Sebenarnya alat ini tidak perlu perawatan. Hanya kalau alat ini dirusak, maka tidak bisa berfungsi optimal. Tapi kami tidak bisa tongkrongin alat terus menerus,” katanya.

Anton mewacanakan mengganti sistem alat dari otomatis menjadi manual. Mekanisme kerjanya nanti sirine bisa dimatikan sewaktu-waktu, sehingga bunyi sirine tidak mengganggu warga. Rencana penggantian sistem ini masih dikoordinasikan dengan Perum Jasa Tirta. Pihaknya hanya berharap ada kesadaran warga untuk ikut menjaga alat sebagai deteksi dini banjir.

Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo Gatot Sutanto mengatakan kerja alat EWS berdasarkan tinggi muka air (TMA). Berdasarkan pos pantau Jurug misalnya, Gatot menjelaskan TMA menyentuh 6,5 meter masuk level hijau, 7,5 meter level kuning dan 8,5 meter level merah. “Saat masuk level merah artinya awas bencana banjir,” katanya.

lowongan pekerjaan
PT. Merak Jaya Abadi, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Pembuang Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (30/11/2017). Esai ini karya Setyaningsih, esais dan penghayat pustaka anak. Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Tahun lalu ternyata Indonesia memiliki prestasi yang wah cenderung angkuh. Prestasi itu bukan kemenangan di bidang olahraga,…