Ilustrasi pelayanan perizinan (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos) Ilustrasi pelayanan perizinan (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)
Selasa, 19 Januari 2016 17:40 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Solo Share :

LAYANAN KESEHATAN SOLO
Menunggak Rp27 Juta, Pasien di RS Kustati Tak Bisa Pulang

Layanan kesehatan Solo, seorang pasien di RS Kustati tidak bisa pulang lantaran masih menunggak biaya perawatan puluhan juta rupiah.

Solopos.com, SOLO–Seorang pasien di Rumah Sakit (RS) Kustati Solo, Kusniawati, 33, terpaksa tak bisa pulang lantaran tak mampu membayar kekurangan biaya perawatan RS senilai Rp27 juta. Pasien asal RT 007/ RW 005 Dusun Panggang, Desa Losari Lor, Kecamatan Losari, Cirebon tersebut saat ini hanya menanti uluran tangan para dermawan dan pemerintah setempat agar bisa kembali pulang.

Wanita malang tersebut sebenarnya sejak 16 Desember 2015 lalu telah diperbolehkan pulang oleh pihak RS. Namun, lantaran masih memiliki tanggungan biaya pengobatan senilai Rp27 juta, ia terpaksa tak diizinkan pulang. Sambil menanti pelunasan, ibu satu anak itu akhirnya ditempatkan di kamar titipan khusus di sudut RS Kustati.

“Sudah lebih satu bulan saya di sini [kamar khusus titipan]. Saya sudah enggak punya harta untuk dijual lagi,” paparnya saat ditemui Solopos.com, Selasa (19/1/2016). Di kamarnya itu, Kusniawati hanya ditemani ibunya.

Kusniawati mengalami patah kaki kiri dalam sebuah insiden kecelakaan beberapa bulan lalu di Cirebon. Istri buruh kupas bawang ini dirujuk ke RS Kustati Solo per 10 November 2015 setelah sebelumnya dirawat di RS Cirebon. Celakanya, ia terdaftar sebagai pasien umum sehingga seluruh biaya tak ditanggung oleh Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Saat itu, yang berjanji membiayai pengobatan dan operasi saya adalah pelaku yang menabrak saya. Jadi, kami tak pakai BPJS. Tapi, ternyata pelaku hanya membayar sebagian biaya dan kurang Rp27 juta,” akunya seraya menyebutkan total biaya keseluruhan mencapai Rp50 jutaan.

Atas insiden ini, Kusniawati hanya bisa pasrah. Suaminya di rumah sudah berusaha meminta bantuan ke perangkat desa setempat. Namun, sampai saat ini belum membuahkan hasil.

Sementara itu, pihak RS Kustati mengaku telah berupaya membantu keluarga pasien Kusniawati semaksimal mungkin. Namun, keluarga pasien di Cirebon diakuinya susah diajak koordinasi. “Kami telepon berkali-kali tak pernah diangkat. Padahal, kami ini mau membantu jalan keluarnya,” ujar perwakilan RS Kustati bagian Pengendali BPJS, Irianti Susilowati.

Pihak RS, sambungnya, sejak awal sebenarnya sudah menyarankan agar pasien memakai BPJS. Namun keluarga pasien tetap memilih kelas umum dengan alasan sudah ada orang yang sudah menanggung biayanya, yakni sopir pelaku penabraknya.

“Nah, sekarang sopirnya juga kabur dan tak mau membayar. Kalau dulu pakai BPJS, kami yakin masalahnya tak serumit ini,” paparnya.

Susilowati memastikan dalam waktu dekat segera berkoordinasi dengan direksi RS Kustati untuk mencari jalan keluar pasien malang tersebut.

lowongan pekerjaan
Perusahaan Outsourcing PLN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Bersama Rakyat Awasi Pemilu

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (05/01/2018). Esai ini karya Ahmad Halim, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kota Administrasi Jakarta Utara. Alamat e-mail penulis adalah ah181084@gmail.com Solopos.com, SOLO–Pemberlakuan UU No. 7/2017 tentang Pemilihan Umum (gabungan UU No. 8/2012, UU…