Jalan sepanjang 8 km di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Boyolali, tak tersentuh aspal sejak 29 tahun silam. Kerusakan jalan tersebut disebut-sebut sebagai pemecah “rekor” sebagai jalan terlama dan terparah yang tak kunjung diperbaiki. Foto diambil Jumat (8/7/2016). (Aries Susanto/JIBI/Solopos)
Senin, 11 Januari 2016 18:15 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

INFRASTRUKTUR BOYOLALI
Jalan Alternatif WKO di Wonoharjo Longsor

Infrastruktur Boyolali, jalur alternatif Kemusu ke Sumberlawang longsor.

Solopos.com, BOYOLALI–Jalan alternatif di Desa Wonoharjo, Kemusu, Boyolali, longsor, sejak  beberapa bulan terakhir. Akibatnya, aktivitas warga yang akan melintasi jalan Kemusu-Juwangi, Sumberlawang, serta Grobogan, terhambat lantaran bahu jalan alternatif tersebut longsor.

“Sejak beberapa pekan terakhir, jalan alternatif itu longsor. Padahal, itu jalan penghubung Kemusu-Juwangi, Sumberlawang, dan Grobogan,” ujar Pujianto, perangkat Desa Wonoharjo kepada Solopos.com, Senin (11/7/2016).

Pujianto bersama pemuda desa lainnya mengaku telah melakukan pengamanan dengan cara memberi aba-aba kepada pengendara yang melintas. Sebab, jika ada kendaraan roda empat yang melintas sangat membahayakan.

“Kami bersama pemuda-pemuda kampung memberikan tanda bahwa ada jalan longsor. Jika tak hati-hati, kendaraan roda empat bisa terperosok ke jurang,” paparnya.

Jalan tersebut, kata Pujianto, berupa rabat beton di dua sisi. Jalan yang dibangun warga secara swadaya itu tersebut sebenarnya hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Jika ada kendaraan roda empat melintas, maka akan sangat susah untuk bersimpangan.

“Risikonya jalan bisa longsor. Dan kendaraan bisa terperosok ke dasar,” paparnya.

Pujianto berharap pemerintah merespons keluhan warga di kawasan Waduk Kedung Ombo (WKO) tersebut. Selama ini, keberadaan mereka sangat terkucil dan jauh dari akses ke pemerintah.

“Jalan rusak di mana-mana, tapi tak ada yang peduli. Sekarang ada jalan swadaya juga rusak. Tapi juga enggak ada yang peduli,” jelasnya.

Kerusakan jalan tersebut melengkapi penderitaan warga Wonoharjo di mana jalur utama desanya juga tak diperbaiki sejak 29 tahun.

Sebelumnya, jalan sepanjang 8 km di wilayah Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Boyolali, tak tersentuh aspal sejak 29 tahun silam. Kerusakan jalan tersebut disebut-sebut sebagai pemecah “rekor” sebagai jalan terlama dan terparah yang tak kunjung diperbaiki.

“Di antara sekian jalan yang rusak, Desa Wonoharjo inilah yang terlama. Sejak diperbaiki terakhir 1985 silam, sampai saat ini tak pernah tersentuh aspal sama sekali. Rusaknya sudah minta ampun,” ujar Wanto, Bayan Wonoharjo, Kemusu, saat ditemui Solopos.com di desa setempat, akhir pekan lalu.

Wanto mengaku sudah tak terhitung berapa kali desa menyampaikan masalah kerusakan jalan itu ke Pemkab Boyolali. Namun, kata dia, hingga kepala daerah dan gubernur silih berganti, tak ada satu pun yang menanggapinya. “Padahal, jalan ini satu-satunya akses warga ke daerah lain. Ini seperti daerah terpencil yang tak diperhatikan pemerintah sama sekali,” paparnya.

Ia mengatakan sejak proyek pembangunan WKO dimulai, sebagian besar warganya menjadi korban. Mereka ada yang direlokasi ke Sragen, Pati, dan sejumlah wilayah di Boyolali dengan kompensasi yang tak manusiawi. Kini, katanya, setelah proyek WKO kelar, nasib warga Wonoharjo tak kunjung membaik. Mereka justru mendapatkan kado pahit berupa peninggalan akses jalan yang hancur akibat proyek WKO.

“Sejak proyek WKO dijalankan sampai selesai dan sampai sekarang, jalan ini tak ada yang peduli. Akibatnya, perekonomian warga mati,” paparnya.

lowongan pekerjaan
induktorindo, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…