Kampoeng Batik Laweyan terbitkan Heritage Laweyan, Kamis (9/4/2015). (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos). Wisatawan berbelanja batik (JIBI/Solopos/Dok.)
Selasa, 20 Oktober 2015 10:35 WIB Ayu Abriyani K.P./JIBI/Solopos Solo Share :

KAMPOENG BATIK LAWEYAN
Batik Laweyan akan Kembangkan Green Eco Batik

Kampoeng Batik Laweyan akan mengembangkan konsep green eco batik yang ramah lingkungan.

Solopos.com, SOLO – Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan akan mengembangkan batik Laweyan sebagai pelopor Green Eco Batik.

Upaya itu untuk mengurangi pencemaran lingkungan terutama di sungai sehingga mendukung Solo menjadi Eco Cultural City atau kota budaya yang ramah lingkungan.

Hal itu diungkapkan Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono, saat menghadiri jumpa wartawan dalam launching Kampoeng Permata Jayengan, Serengan, akhir pekan lalu.

Untuk mewujudkan rencana itu, ia akan bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi di Solo untuk penelitian penggunaan pewarna alam dalam industri batik.

“Banyaknya penggunaan bahan kimia dalam pewarnaan batik bisa memperparah polusi lingkungan terutama di sungai. Untuk itu, kami merencanakan pembuatan batik ramah lingkungan salah satunya dengan pewarnaan alami,” katanya.

Upaya tersebut dirancang dalam tiga tahap dengan maksimal pencapaian 15 tahun ke depan.

Tiga tahap yang dilakukan berupa lima tahun pertama adalah membangun kesadaran publik tentang pentingnya penghijauan dengan budidaya hutan tanaman pewarna alam.

Ia akan bekerja sama dengan Edupark Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Colomadu yang memiliki total lahan sekitar lima hektare.

Kemudian upaya selanjutnya adalah penelitian pengolahan warna alam yang awet seperti saat menggunakan bahan kimia. Sebab, kelemahan pewarna alam adalah mudah luntur sehingga kurang diminati konsumen.

Sedangkan lima tahun kedua berupa penataan kawasan ramah lingkungan dengan pengolahan limbah sehingga aman saat dibuang ke sungai.

Pada lima tahun terakhir berupa manajemen ramah lingkungan dalam hal kesadaran para pemilik usaha, tenaga kerja, dan mengurangi penggunaan bahan pewarna sintetis dalam pembuatan batik.

“Dengan upaya itu, kami ingin menjadi penggerak industri bersih di bidang usaha batik. Kami ingin menyusul prestasi Jogja yang kini disebut sebagai Kota Batik Dunia,” ujarnya.

Selain itu, ia pun pun ingin melestarikan sejarah batik yang menjadi usaha rakyat yang murah, kreatif, dan bisa menjadi usaha sampingan. Terkait rencana itu, ia telah mengusulkan secara lisan dengan beberapa kementerian seperti pariwisata, perdagangan, dan koperasi.

Menurutnya rencana jangka panjang itu perlu dukungan semua pihak agar bisa terealisasi secara maksimal. “Kami ingin Kampoeng Batik Laweyan bisa semakin berkembang sehingga lebih mengangkat nama Solo di tingkat nasional, bahkan bisa mendunia,” kata dia.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…