Plafon teras Puskesmas Jatipuro, Karanganyar, ambrol, lantaran sudah berusia tua. Tembok bangunan puskesmas juga retak. Foto diambil Rabu (7/10/2015) siang. (Istimewa)
Kamis, 8 Oktober 2015 10:35 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

PELAYANAN KESEHATAN KARANGANYAR
Tak Ada Penawar, Proyek 3 Puskesmas Gagal Dilelang

Pelayanan kesehatan Karanganyar diterpa masalah adanya puskesmas yang bangunannya rusak.

Solopos.com, KARANGANYAR – Proyek pembangunan ulang (pemugaran) Puskesmas Jatipuro, Karanganyar tahun 2015 senilai Rp2,6 miliar gagal dilelang lantaran tidak ada pihak penawar.

Nasib serupa dialami Puskesmas Tawangmangu dan Puskesmas Kebakkramat. Rencana renovasi dua puskesmas menggunakan dana APBD Karanganyar 2015, juga dipastikan gagal lelang.

Penjelasan tersebut disampaikan Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) Setda Karanganyar, Joko Irianto, saat dihubungi, Rabu (7/10/2015).

“Rencana pembangunan dan renovasi tiga puskesmas gagal. Puskesmas Jatipuro dan Tawangmangu, tidak ada penawar. Puskesmas Kebakkramat ada satu penawar tapi tak memenuhi syarat,” kata dia.

Joko mengaku tidak mengetahui kenapa tidak ada penawar dalam rencana pembangunan Puskesmas Jatipuro. Padahal sebelumnya ada 11 pihak yang mendaftarkan diri.

Pagu anggaran pembangunan ulang Puskesmas Jatipuro tercatat Rp2,6 miliar. Sedangkan harga perkiraan sendiri (HPS) renovasi Puskesmas Tawangmangu sekitar Rp2,68 miliar.

Sementara HPS renovasi Puskesmas Kebakkramat yaitu Rp1,69 miliar. “Sampai batas akhir pembukaan dokumen penawaran ternyata tidak ada yang mengajukan penawaran,” tutur dia.

Menyikapi hal itu, Komisi D DPRD Karanganyar menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke Puskesmas Jatipuro. Sidak dipimpin langsung Ketua Komisi D DPRD Karanganyar, Endang Muryani.

Menurut politikus PDI Perjuangan (PDIP) tersebut kondisi Puskesmas Jatipuro sangat memprihatinkan. Dia mendesak Pemkab segera mengambil langkah untuk menyikapi masalah tersebut.

Endang menguraikan kerusakan Puskesmas Jatipuro meliputi plafon ruangan ambrol, atap bangunan bocor, sekat antarruang rawat inap berlubang, dan tembok bangunan berlumut.

“Hasil pengamatan saya di lapangan, kondisi bangunan Puskesmas Jatipuro sangat memprihatinkan. Banyak bagian bagian bangunan yang rusak, seperti plafon jebol,” kata dia.

Endang meminta Pemkab tak hanya fokus dalam peningkatan pelayanan kesehatan. Sebab fasilitas, sarana dan prasarana (sarpras) kesehatan juga dinilai sangat penting.

Terkait gagal lelangnya rencana pembangunan dan renovasi tiga puskesmas, Endang mengaku sangat prihatin. Ke depan Pemkab diminta lebih jeli dalam perencanaan.

“Ternyata kegagalan lelang tidak hanya terjadi di Puskesmas Jatipuro, tapi juga Puskesmas Tawangmangu dan Kebakkramat. Hal ini harus jadi bahan evaluasi bersama,” sambung dia.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…