Petani menyemprotkan pestisida untuk membasmi hama padi di Ngawi, Sabtu (29/8/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Ari Bowo Sucipto) Petani menyemprotkan pestisida untuk membasmi hama padi di Ngawi, Sabtu (29/8/2015). (JIBI/Solopos/Antara/Ari Bowo Sucipto)
Senin, 28 September 2015 01:45 WIB Muhammad Ismail/JIBI/Solopos Klaten Share :

PERTANIAN KLATEN
Petani Nekat Tanam Padi Saat Musim Kemarau, Ini Alasannya

Pertanian Klaten, sejumlah petani tetap menanam padi saat musim kemarau dengan berbagai alasan.

Solopos.com, KLATEN–Sejumlah petani di Desa Ketitang dan Bolopleret, Juwiring nekat menanam tanaman padi pada musim kemarau panjang tahun ini. Mahalnya harga beras menjadi alasan utama petani nekat menanam padi.

Salah seorang petani Desa Ketitang, Suparno, mengatakan Musim Tanam (MT) III memilih kembali menanam padi. Lahan seluas 2.500 meter persegi miliknya ditanami padi jenis Inpari 8. Umur tanaman padi baru berusia tujuh hari.

“Kami sudah mempertimbangkan risiko menanam padi pada musim kemarau. Petani memilih menanam padi karena hasilnya sangat menjanjikan dari pada menanam tanaman palawija,” ujar Suparno saat ditemui Solopos.com di sawah, Minggu (27/9/2015).

Dia mengatakan kenaikan harga beras di pasaran menjadi alasan utama petani nekat menanam padi meskipun musim kemarau. Beras kualitas bagus, kata dia, sekarang harganya Rp9.500/kg dari sebelumnya Rp8.000/kg atau mengalami kenaikan sebesar Rp1.500/kg. Harga gabah kering pun ikut naik dari sebelumnya Rp5.000/kg menjadi Rp6.000/kg.

“Kenaikan harga beras dipicu karena stok beras di tingkat petani sudah habis. Banyaknya petani gagal panen akibat musim kemarau juga mempengaruhi naiknya harga beras di pasar,” kata Suparno.

Dia mengaku sebenarnya dari Dinas Pertanian (Dispertan) sudah menghimbau kepada petani untuk beralih menanam tanaman palawija pada musim kemarau. Namun, petani tidak peduli dan tetap menanam tanaman padi.

Senada diungkapkan petani Desa Bolopleret Tarmuji. Menurut dia, sudah menyiapkan sumur bor untuk mengatasi kekurangan air selama musim kemarau untuk mengairi lahan pertanian seluas 2.000 meter persegi. Sumur bor yang dibuat itu menghabiskan dana senilai Rp2 juta.

“Menanam padi pada musim kemarau butuh biaya operasional lebih. Kami tidak khawatir gagal panen. Harga beras untuk saat ini sangat menguntungkan petani,” ujar Muji kepada Solopos.com.

lowongan pekerjaan
GURU MADRASAH, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Banyak Pelajaran dari Gregoria

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (6/11/2017). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Universitas Sebelas Maret dan tinggal di Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO — Hari-hari ini adalah periode…