Ilustrasi hujan (wallconvert.com) Ilustrasi hujan (wallconvert.com)
Jumat, 25 September 2015 10:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

KEMARAU 2015
BMKG Bantah Hujan Tanda Mulainya Musim Penghujan, Lalu Apa?

Kemarau 2015 belum berakhir meskipun sebagian wilayah sudah diguyur hujan. Kapan musim penghujan tba di Jatim?

Solopos.com, SURABAYA Staf Informasi dan Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Surabaya Eko Prasetyo mengemukakan hujan yang mengguyur sejumlah daerah di tengah musim kemarau 2015 ini hanya tanda awal akan datangnya musim pancaroba, belum memasuki musim penghujan.

“Memang sejumlah daerah sudah mulai ada hujan, tapi itu hanya tanda awal akan masuk masa peralihan [dari musim kemarau ke musim penghujan] atau masa pancaroba. Sekarang masih musim kemarau,” tegasnya di Surabaya, Rabu (23/9/2015), menanggapi adanya sejumlah daerah yang mulai diguyur hujan di tengah kering dan panasnya Kemarau 2015 ini.

Sejumlah daerah di Indonesia dalam beberapa hari terakhir mulai turun hujan itu di antaranya di Pekanbaru, Palembang, kawasan Aceh Selatan,  dan Bekasi,. Sedangkan di Jatim, hujan di tengah Kemarau 2015, dilaporkan tercurah dari langit daerah Lawang, Karangploso, Karangharji, Supiturang, Asembagus, dan Kalianget.

Hujan Sporadis
Menurut Eko, Jatim akan mengalami masa peralihan atau masa pancaroba pada Oktober- November 2015, sedangkan musim penghujan diprakirakan baru akan terjadi pada akhir November  2015 hingga awal Desember 2015 mendatang.

Kendati demikian, ia tidak menampik jika semakin dekat masa peralihan itu guyuran hujan diprakirakan akan semakin banyak.  “Curah hujan pada masa peralihan akan semakin tinggi meskipun sifatnya sporadis, tidak merata dan hanya sebentar, hingga akhirnya masuk musim penghujan,” katanya.

Eko mengingatkan, pada masa pancaroba biasanya dibarengi dengan angin yang bertiup cukup kencang sehingga bisa berpotensi menimbulkan bencana alam.

Kekeringan Ekstren

Analisi hari tanpa hujan akibat dampak El Nino 2015. (data.bmkg.go.id)

Analisi hari tanpa hujan akibat dampak El Nino 2015. (data.bmkg.go.id)

Sementara itu, berdasarkan pengamatan  di sejumlah pos yang dilakukam jajaran BMKG,  sebagian besar wilayah Jatim kini masih mengalami kekeringan ekstrem atau hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari.  Bahkan,  berdasarkan pantauan Pos Cerme di Kabupaten Bondowoso  HTH mencapai 149 hari, Pos Dander di Kabupaten Bojonegoro selama 148 hari dan Pos Glagah, Alas Bulu, Bajulmati, Pasewaran di Kabupaten Banyuwangi dan Pos Rubaru di Kabupaten Sumenep mencapai 143 hari.

Dengan kondisi Kemarau 2015 tersebut, masyarakat di berbagai daerah di Jatim mengalami kesulitan air karena daya dukung lingkungan kini cenderung turun dibandingkan beberapa tahun lalu.

Suhu Makin Panas
Lebih lanjut Eko menambahkan, suhu udara di belahan bumi selatan kini semakin panas menyusul terjadinya pergerakan semu matahari dari utara ke selatan. “Puncaknya diprakirakan akan terhjadi pada 23 Oktober mendatang dengan suhu udara bisa mencapai 36 derajat Celcius,” katanya.

Menyinggung kondisi cuaca di perairan Laut Jawa saat Kemarau 2015 ini, ia menyebutkan tinggi gelombang cukup tinggi berkisar 2 m-3,5 m dengan kecepatan angin sekitar 50 km/jam. Sedangkan di Samudera Hindia, di selatan Pulau Jawa, tinggi gelombang bakal mencapai 2 m dengan kecepatan angin 25 km/jam-30 km/jam.

 

Lowongan Pekerjaan
QUALITY CONTROL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Jokowi Raja Batak

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (13/01/2018). Esai ini karya Advent Tarigan Tambun, inisiator Sinabung Karo Jazz 2017. Alamat e-mail penulis adalah atambun@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Saya bukan ahli budaya Batak. Dengan jujur saya harus mengatakan bahwa pengetahuan saya tentang budaya…