Ilustrasi melahirkan (Hufftingpost.com) Ilustrasi melahirkan (Hufftingpost.com)
Minggu, 15 Maret 2015 23:50 WIB Eni Widiastuti/JIBI/Solopos Fokus Share :

TIPS KELUARGA
Ini Faktor yang Bikin Para Suami Takut Temani Istri Melahirkan

Tips keluarga kali ini terkait dengan faktor yang membuat para suami takut menemani saat istri mereka melahirkan.

Solopos.com, SOLO — Kelahiran anak di tengah keluarga menjadi momentim membahagiakan bagi para orang tua. Namun, terkadang  para suami bernyali ciut saat melihat sang istri berjuang dalam melahirkan. Apa sebabnya? Simak tips kali ini, Jumat (13/3/2015), yang mengulas seputar faktor ketakutan suami.

Proses melahirkan merupakan momentum paling berharga ketika sang istri membutuhkan dukungan langsung dari keluarga, khususnya suami. Ketika mendampingi istri, suami mendapatkan perasaan emosional yang luar biasa menyaksikan lahirnya si buah hati. Namun tak sedikit saat persalinan, suami tak mendampingi istri lantaran beberapa faktor.

Salah satunya, suami merasa takut melihat darah maupun cairan yang keluar, seperti air ketuban. Atau saat suami di luar kota, sehingga tak bisa mendampingi istri bersalin.

Seperti yang dialami Reza Indraswara, 31, warga Kecamatan Sewon, Bantul tak mendampingi istri yang melahirkan anak pertamanya pada 2012. Dia mengaku trauma melihat darah yang cukup banyak. Reza hanya menunggu di luar ruang persalinan bersama keluarganya.

“Ibu saya yang menemani istri di dalam ruang bersalin. Saya ngeri dan takut karena trauma melihat darah. Sewaktu kecil saya pernah terjatuh saat bersepeda dan mengeluarkan banyak darah. Bisa-bisa saya pingsan kalau melihat darah saat persalinan,” ujarnya saat ditemui di counter telepon selular miliknya di Bantul, Selasa (24/2/2015).

Sebenarnya ia ingin mendampingi istrinya saat persalinan anak keduanya pada pertengahan 2014 lalu. Bahkan Reza telah masuk dan menggenggam erat tangan istrinya di kamar persalinan, namun ia tak sanggup. “Saya ingin memberikan dukungan kepada istri saat melahirkan anak kedua. Tapi belum apa-apa trauma kembali muncul,” tutur dia.

Hal serupa dialami Risang Pujianto, 30, warga asal Kecamatan Kasihan, Bantul. Dia tak dapat melihat momen persalinan istrinya secara langsung karena bertugas di Jakarta. Biasanya ia pulang ke Jogja hanya saat weekend. Orang tua dan keluarganya yang menemani sang istri selama proses persalinan. “Istri saya melahirkan pas saya di Jakarta,” tutur dia.

Efek Positif
Senada dengan Reza dan Risang, warga Kadipiro, Solo, Sunardi, 58, tak masuk ruang persalinan menunggui di ruang persalinan. “Saya tidak tega melihat istri kesakitan. Jadi pilih menunggu di luar,” ungkapnya ditemui Solopos di depan kampus Universitas Slamet Riyadi Solo, Rabu (25/2/2015).

Peran suami saat menemani istri yang berjuang di dalam ruang bersalin mempunyai efek positif. Menurut dokter kandungan Rumah Sakit Panti Rapih, Jogja, dr. Sri Widayanto, ada efek kognitif yang dirasakan, baik suami maupun istri saat proses persalinan.

Timbul rasa penghargaan yang tinggi dalam diri suami terhadap istrinya. Di sisi lain, istri mendapatkan suntikan tenaga ekstra yang dapat memperlancar proses persalinannya.

“Selama ini ada juga istri yang tidak ditemani suaminya saat persalinan. Namun, sebisa mungkin calon ayah harus berada di ruang persalinan agar bisa melihat langsung detik-detik persalinan istrinya,” kata dia.

lowongan kerja
lowongan kerja Guru, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


3

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…