ilustrasi kader HMI di persidangan (JIBI/Dok)
Jumat, 6 Februari 2015 11:05 WIB JIBI/Solopos/Antara Madiun Share :

KADER HMI
Banyak Kader HMI Jadi Hakim, Jaksa, Pengacara, hingga Terdakwa

Kader HMI banyak yang menujukkan kiprahnya sebagai tokoh Nasional. Namun tak sedikit juga yang menjadi pesakitan di pengadilan.

Solopos.com, PAMEKASAN – Tokoh nasional Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Sakib Mahmud, menyatakan selama 68 tahun berdiri, HMI telah melahirkan banyak tokoh-tokoh pemasok pejabat negeri berjiwa Islami. Sayangnya, kata dia, sebagian kader HMI yang menjadi pejabat banyak juga yang menyimpang dari nilai Islami.

“Kalau ada sidang, mantan aktivis HMI yang jadi hakim banyak, kadang jaksanya juga HMI, pengacaranya HMI. Sayangnya, terdakwanya banyak yang HMI juga,” kata Sakib Mahmud saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara Dies Natalis Ke-68 HMI di aula SMK Negeri 3 Pamekasan, Kamis (5/1) malam.

Dalam orasi ilmiah bertema “68 Tahun HMI Mengayuh Konsisten Menjadi Abdi Umat dan Bangsa” itu Sakib Mahmud menjelaskan, umat Islam di dunia ini ada empat golongan. Pertama, golongan awam atau umat Islam pada umumnya yang sekedar tahu tentang Islam dan kewajibannya sebagai penganut agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Kedua golongan ulama, yakni orang-orang yang menjalankan Islam seperti yang dilakukan Rasulullah. Lalu yang ketiga, golongan Islam sufistik, yakni kelompok Islam yang memandang bahwa yang perlu dilakukan umat manusia hanya terkait akhirat saja dan kurang memperhatikan masalah duniawi.

Sedangkan golongan Islam keempat, adalah Islam modern, yakni golongan yang berfikir visioner, senantiasa terus menerus berproses menyesuaikan dengan tuntuhan zaman.

“HMI berada pada posisi keempat ini, dan oleh karena itu, peran sebagai kader umat dan kader bangsa harus senantiasa terus berjalan seirama, antara iman, ilmu dan amal juga harus seimbang,” katanya.

Di bagian akhir orasinya, teman akrab Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid (Cak Nur almarhum) ini mengingatkan agar HMI terus meningkatkan kontribusi pemikiran yang positif bagi perkembangan dan kemajuan baik untuk bangsa dengan senantiasa tetap menjaga keutuhan NKRI, maupun bagi umat dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…