Dua kera ekor panjang bermain di batang pohon Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yang terletak berdekatan dengan Dusun Kembangan, Desa Sidorejo, Kemalang. (JIBI/Solopos/Shoqib Angriawan/dok)
Sabtu, 31 Mei 2014 05:27 WIB Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

SERANGAN KERA
Merapi Normal, Ladang di Lima Desa Diserang Kera

Solopos.com, KLATEN–Ratusan hektar lahan pertanian yang ada di lima desa di lereng Gunung Merapi diserang ribuan kera jenis ekor panjang. Hewan primata tersebut kembali menyerang sejak status Merapi kembali normal.

Lima desa yang diserang kera tersebut adalah Kendalsari, Panggang, Balerante, Sidorejo dan Tegalmulyo. Kepala Desa Kendalsari, Supadi, menduga kera tersebut turun gunung karena di hutan sudah kehabisan makanan sejak erupsi 2010.

Hingga saat ini, menurutnya, kera telah menyerang sekitar 25 Hektar (Ha) lahan di desanya. Serangan kera tersebar di tiga dusun yang terletak di pinggir alur Kali Woro, yakni di Dusun Krayu, Kembang Bener, Kaligentong.

“Kawanan kera yang hidup berkoloni tersebut memakan dan merusak segala tanaman yang ditanam oleh petani seperti jagung, ketela dan tanaman lain,” terangnya saat ditemui wartawan usai mengikuti rapat koordinasi (Rakor) di aula Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Jumat (30/5/2014). Dalam rakor yang membahas serangan kera tersebut, turut dihadiri anggota TNI, Polri, sukarelawan dan perangkat desa di lima wilayah terdampak.

Lebih lanjut, Supadi mengatakan serangan kera tersebut sudah semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, serangan sudah semakin luas dan mendekati permukiman warga. “Bahkan, kera tersebut sampai mendekat ke permukiman penduduk. Warga pernah berusaha untuk mengusir kera tersebut. Namun, kawanan kera malah mengamuk dan mengejar warga,” imbuhnya.

Pihaknya mengaku tidak berani membunuh kera tersebut. Pasalnya, kera ekor panjang tersebut merupakan spesies yang dilindungi oleh pemerintah.

Sementara, Kepala BPBD Klaten, Sri Winoto, membenarkan serangan yang semakin meluas tersebut. “Saat ini serangan sudah mengkhawatirkan sejak Merapi beralih status menjadi normal. Tanaman jagung milik petani bahkan sampai habis diserang,” katanya kepada wartawan di BPBD Klaten, Jumat.

Rencananya, pada Sabtu (7/6) mendatang BPBD, sukarelawan bersama masyarakat bersama-sama melakukan pengusiran kera tersebut. Pengusiran dilakukan supaya kera tersebut kembali ke habitatnya di hutan Merapi.

“Untuk cara pengendalian kera, kami belum bisa memastikan karena masih dibahas dalam rakor pekan mendatang,” imbuhnya. Namun demikian, pihaknya mengaku sudah memiliki sejumlah cara seperti mengusir dengan mercon, hingga menggunakan kotoran.

lowongan pekerjaan
BPR SAMI MAKMUR, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Musik Pop dan Nikah Muda

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (21/10/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pengelola Buletin Bukulah! Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Saat isu komunisme (lagi-lagi) diangkat ke publik sekian waktu lalu,…