Sejumlah warga bergotong royong menguruk jalan evakuasi di jalur tengah yang rusak parah dengan material pasir dan batu, Minggu (4/5/2014). Kegiatan tersebut dilakukan secara swadaya oleh masyarakat sebagai bentuk keprihatinan parahnya jalur evakuasi yang rusak. (Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos)
Minggu, 4 Mei 2014 22:16 WIB Shoqib Angriawan/JIBI/Solopos Klaten Share :

MERAPI WASPADA
Jalur Evakuasi Merapi Rusak, Warga Perbaiki Sendiri

Solopos.com, KLATEN — Lantaran tidak kunjung diperbaiki, ratusan warga Kecamatan Kemalang, Klaten, akhirnya memilih menguruk jalur evakuasi Gunung Merapi secara swadaya, Minggu (4/5/2014). Perbaikan jalur evakuasi yang rusak parah itu dilakukan dengan material pasir dan batu.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, kerja bakti tersebut melibatkan ratusan warga yang dibantu petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, TNI dan Polri. Selain itu, kegiatan tersebut juga dibantu oleh sejumlah sukarelawan peduli lingkungan, di antaranya dari Komunitas Anak Bono Cinta Damai (ABCD), Kelompok Anak Cinta Lingkungan dan Ikatan Remaja Karang.

Kerja bakti yang dimulai sekitar pukul 06.30 WIB tersebut dilakukan di jalur tengah atau yang menuju ke objek wisata Deles Indah. Perbaikan secara swadaya tersebut dilakukan sejauh sekitar 5 kilometer. Jalur tengah tersebut dipilih karena menjadi jalur yang paling parah kerusakannya.
Koordinator Komunitas ABCD, Sutopo Umar Bukori, 30, memaparkan perbaikan itu dilakukan atas dasar inisiatif warga. “Warga merasa prihatin terhadap kerusakan jalan yang menjadi jalur evakuasi. Sebab, hingga saat ini belum ada perhatian dari Pemkab,” ujarnya kepada wartawan di sela-sela kegiatan, Minggu.

Tanam Pohon
Sebelumnya, karena parahnya jalur evakuasi, warga menanam pohon di tengah jalan yang ada di Desa Bumiharjo. Sebab, lubang pada jalur evakuasi dalamnya mencapai lebih dari 30 cm. Kondisi tersebut membuat warga yang melintas harus berhati-hati. Pasalnya, hal tersebut bisa mengakibatkan kecelakaan. Apalagi, jalur tersebut begitu padat dengan truk galian C yang melintas.

Salah satu warga setempat, Giyono, mengatakan kerusakan jalur evakuasi tersebut terjadi selama lebih dari setahun terakhir. “Jalur evakuasi rusak selama lebih dari setahun. Penyebabnya karena truk yang overload mengangkut pasir itu,” keluhnya, Sabtu (3/5/2014). Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, warga sampai menanam pohon di tengah jalan. “Beberapa bulan terakhir, warga sampai menanam pohon di tengah jalan karena banyak pengendara motor yang jatuh terperosok di lubang jalan,” paparnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Klaten, Sri Winoto, mengaku kerusakan jalan evakuasi hampir merata di semua jalur baik tengah, barat hingga timur. Banyaknya truk pengangkut pasir dan batu yang melintas disinyalir menjadi pemicu kerusakan. Apalagi, banyak truk yang memuat pasir melebihi batas yang ditentukan. Kondisi tersebut membuat kerusakan jalan menjadi semakin parah.

Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, BPBD telah menyiapkan jalur  pedesaan yang bisa digunakan untuk jalur evakuasi alternatif. “Jalur alternatif disiapkan untuk memudahkan proses evakuasi. Sebab, jalur utama evakuasi banyak yang sudah rusak,” katanya kepada wartawan di lokasi, Minggu.

Shoqib Angriawan

Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…