PESAWAT MALAYSIA AIRLINES HILANG
Berada di Titik Aman, Hilangnya Pesawat Malaysia Airlines Dinilai Ganjil

Ilustrasi Malaysia Airlines (wikipedia.org)Ilustrasi pesawat terbang milik maskapai Malaysia Airlines (wikipedia.org)

Solopos.com, HONG KONG — Hilangnya pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH 370 yang berangkat dari Kuala Lumpur menuju Beijing pada Sabtu (8/3/2014) pagi sangat misterius dan ganjil. Hal itu diungkapkan pakar penerbangan CNN, Richard Quest, yang menilai pesawat tersebut berada di titik teraman dalam penerbangan.

“Kejadian itu dua jam setelah penerbangan. Seharusnya ini merupakan bagian paling aman dalam penerbangan,” kata Richard Quest seperti dikutip CNN, Sabtu. “Jadi, dalam titik tersebut, tidak ada yang bermasalah. Pesawat tersebut dalam ketinggian yang memungkinkan untuk auto pilot. Pilot hanya perlu sedikit mengoreksi dan mengubah ketinggian pesawat.”

Namun yang terjadi, pesawat tersebut justru bergerak semakin tinggi. Hal inilah yang dianggap aneh oleh Quest karena sangat mudah mengendalikan pesawat dalam kondisi tersebut. “Jadi, ada sesuatu yang sangat serius yang terjadi saat itu.”

Quest mengatakan pesawat Boeing 777-200 dengan dua mesin buatan Rolls-Royce Trent tersebut berusia sekitar 11 tahun. Selama ini, pesawat milik maskapai penerbangan Malaysia memiliki rekam jejak yang baik di dunia penerbangan. “Ini bukan pesawat tua. Malaysia memiliki 15 pesawat Boeing 777-200 dan mereka merupakan operator yang sangat berpengalaman. [Malaysia Airlines] merupakan maskapai penerbangan dengan rekam jejak yang sangat bagus.”

Analisis lainnya dari mantan investigator National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat (AS), Greg Feith, menyebutkan seharusnya pilot masih mampu memberikan laporan saat itu. Bahkan pilot masih bisa melakukannya meski pesawat sedang kehilangan daya dorong sekalipun.

“Pesawat ini memiliki batere sebagai sumber tenaga cadangan. Mereka [pilot] seharusnya bisa memanfaatkan instrumen-instrumen pesawat dan alat komunikasi untuk menyelesaikan penerbangan dengan aman,” kata Greg Feith. “Pesawat bisa saja kehilangan semua generator, atau kedua mesinnya mati. Tai ada batere cadangan yang hanya bekerja pada situasi darurat.”

Karena itu, Feith menyebut ada kemungkinan ada masalah tekanan udara terhadap pesawat. “Jika terjadi masalah di ketinggian seperti berkurangnya tekanan udara, waktu bagi pilot di etinggian 30.000-40.000 hanya dalam hitungan detik. Feith juga mengatakan mustahil bagi pesawat sebesar itu untuk mendarat darurat.

Editor: | dalam: Peristiwa |
Menarik Juga ยป