Salah satu sudut Kampung Batik Laweyan (JIBI/Solopos/Dok) Salah satu sudut Kampung Batik Laweyan (JIBI/Solopos/Dok)
Sabtu, 1 Maret 2014 03:15 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Solo Share :

KAMPUNG BATIK LAWEYAN
Disbudpar akan Kaji Cikal Bakal Museum Samanhoedi

Solopos.com, SOLO—Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo akan mengkaji cikal bakal berdirinya Museum Samanhoedi di kawasan Laweyan. Keberadaan museum tersebut masih dirintis Forum Rembuk Kampung Batik Laweyan yang melibatkan empat kelurahan, yakni Kelurahan Laweyan, Sondakan, Pajang, dan Bumi.

Kepala Disbudpar Solo, Eny Tyasni Suzana, saat ditemui solopos.com, Kamis (27/2/2014), mengungkapkan cikal bakal Museum Samanhoedi muncul karena ada dorongan dari masyarakat. Sedangkan rumah Samanhoedi yang memungkinkan untuk menjadi museum masih dimanfaatkan keluarga ahli waris.

“Sepanjang museum itu memungkinkan untuk dikembangkan kenapa tidak. Apalagi kalau ada bantuan dari pemerintah pusat untuk merevitalisasi dan sebagainya. Namun, koleksi peninggalannya bagaimana? Memadai atau tidak? Yang penting untuk edukasi bagi generasi muda kan isinya bukan bangunannya. Jadi, ke depan kami perlu melakukan kejian atas museum itu,” tegasnya.

Kajian itu meliputi seberapa besar peran pemerintah untuk pengembangan museum itu dan siapa pengelola museum itu. Eny mengatakan pihak keluarga belum berkomunikasi dengan pemerintah kota (pemkot). Eny pun masih sangsi dengan keikhlasan keluarga untuk menghibahkan bangunan maupun barang peninggalan Samanhoedi.

Terpisah, Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Solo, Alpha Febela Priyatmono, saat dihubungi solopos.com, Jumat (28/2/2014), mengatakan empat kelurahan sudah berembuk dan terwadahi dalam Forum Rembuk Kampung Batik Laweyan terkait dengan pengembangan Museum Samanhoedi. Menurut Alpha, pihaknya baru merintis dengan menelusuri sejumlah peninggalan Samanhoedi. Dia menerangkan barang-barang yang dipajang di Kelurahan Sondakan itu masih berupa foto-foto dan dokumen-dokumen.

“Kami terus berkomunikasi dengan keluarga dan cucu Samanhoedi untuk menelusuri barang-barang peninggalan yang ada. Saat ini, barang-barang itu masih menyebar. Selain museum, kami juga akan mengembangkan perpustakaan Samanhoedi. Perpustakaan itu bisa dikelola secara terpisah atau menyatu dengan museum. Rencana pengembangan itu perlu dibicarakan lebih lanjut,” tegas Alpha.

Dia menyampaikan hambatan yang dihadapi Kampung Batik Laweyan, yakni tentang keterbatasan infrastruktur bangunan, termasuk pengembangan museum. Aplha menegaskan pihak keluarga belum bicara soal bangunan.

“Saya kira pengembangan museum itu butuh waktu lama dan dana yang besar. Selama ini, kami baru menyampaikan informasi ke pemkot. Dalam pertemuan dengan empat kelurahan, yang kebetulan dihadiri Camat Laweyan, rencana pengembangan itu akan diajukan ke musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) tingkat kota,” imbuhnya.

Forum tersebut juga akan mengembangkan penataan Sungai Jenes yang melintas di empat kelurahan itu. Salah satu rencananya dengan membentuk petugas ngreksa lepen dan penataan kawasan di garis sepadan sungai. “Tentunya dalam penataan sungai itu tetap berpedoman pada lingkungan hidup dan diharapkan bisa mendukung pariwisata di Kawasan Kampung Batik Laweyan,” pungkasnya.

lowongan pekerjaan
AYAM BAKAR KQ 5, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Musik untuk Palestina

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (12/12/2017). Esai ini karya Udji Kayang Aditya Supriyanto, peminat kajian budaya populer dan pendengar musik metal ala Timur Tengah. Alamat e-mail penulis adalah udjias@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bikin masalah lagi….